Beranda, Puisi

Masih Tentang Air Mata perpisahan

Sederas apapun hujan yang membasahi pelupuk mataku
Genangannya hanya mampu menjelma kenangan
Tak dapat membawamu kembali padaku

sore itu masih ku ingat betul
perjalanan kita
sebab jiwa raga kita bisa berjumpa
sebab cinta kerinduan yang selalu menjelma
saat itukita telah mengukir kisah cinta kita bersama
bersama jutaan harapan yang kini sirna

Dan pada senja yang meluruhkan saga
Aku masih berucap
Aku merindui mu
Detak kenanganku masih namamu
Hingga masih terasa kecupan di keningku
masih ku ingat selalu

Namun sekarang yang tersisa hanyalah cerita
hanyalah sejuta harapan yang terbingkai dalam asa
Setangkai kepedihan kini tergeletak
Perihnya menggenggam jemari hati
Tak berdarah
Namun sungguh luka

kau tau saat itu
aku menjadi seorang laila tapi yang gila karena kita tak bisa bersama
setiap ku membuka mata
ah, lagi, lagi dan lagi kamu
iya, kamu yang selalu ada di pandangan mata

Hingga aku merasa lelah menatap malam
Tabur bintang
Bulan tak penuh
Tanpa kabarmu hanyalah lukisan cakrawala tak bernyawa
tapi aku hanya bisa berdoa semoga kau selalu baik-baik saja
aku yakin kita berpisah untuk berjumpa

Iklan
Beranda, Puisi

Nafas Penantian

Seringkali aku berpikir, jauh ke depan
Membayangkan dirimu
Ya, itu dirimu…

ku mencoba berfikir jikalau suatu saat akan duduk di sampingku
Terlintas sesosok bayangan
Akankah itu adalah dirimu? Tangan itu,Apakah tangan itu yang suatu saat akan menggenggam erat tanganku ini? Yang akan senantiasa menguatkan dikala aku mulai lelah memikul beratnya beban hingga aku merasakan sebuah kekuatan yang sesungguhnya

Mata itu, Akankah bola mata itu yang kelak akan meneduhkan hati ku yang sedang gundah gulana
Yang melalui tatapan indahnya ia akan senantiasa menyejukan bahkan menenangkan

Bibir mungil itu, Apakah bibir itu yang nantinya tak akan pernah lelah memotivasi dan menasihatiku? Menuangkan setiap tutur indahnya dalam bait-bait puisi kehidupanku
Yang jelas aku tidak tahu pasti
Aku tak pernah mencemburui,
Pun aku tak pernah memberi harapan berlebih,Yang aku tahu
Engkau selalu hadir dalam mimpi-mimpi indahku,Engkau selalu ada dalam bait-bait do’a ku

Sebab namamu,
Tiap cawanku berisikan aksara yang indah.
Tatkala kuingat senyummu,
Tiap kataku bermakna dan merayu.
Dalam tiap bait itu,
Dirimu menjadi pusat dari keindahan puisiku..

Semoga tetap terjaga, Hingga waktunya tiba..

Beranda, Puisi

Ini Tentang Proses

Proses itu panjang
Proses itu tidak ada yang instan
Proses itu penuh perjuangan
Proses itu penuh pertimbangan
Proses itu penuh keikhlasan
Proses itu butuh pemikiran mendalam
Proses itu butuh yang namanya perngorbanan
Proses itu penuh teka-teki
Proses itu penuh misteri
Proses itu semua yang pernah kita lewati bahkan hingga detik ini
dimana detik ini yang selalu ku semogakan dalam doa panjangku pada Rabb ku

Proses, iyaa Proses…

Proses itu tak mengenal waktu
bahkan proses itu tak terbatas waktu
aku akan tetap berproses baik dan membaikkan.

Beranda, Puisi

Ini Tentang Hati

Layaknya sebuah bangunan. Sejak penghuninya pergi, bangunan itu telah ditutup. Pintunya sudah digembok rapat. Dan kunci gemboknya telah dibuang jauh. Bisa saja sampai ke dasar laut, hingga tidak ada seorangpun yang dapat menemukannya kembali. Hingga tak seorangpun bisa memasuki bangunan itu lagi.

Beberapa kali ada seseorang yang mencoba mengetuknya, namun semua sia-sia. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda pintu bangunan itu akan dibuka. Bahkan sempat beberapa kali ada yang mencoba mencongkelnya, namun hal itu tetap sia-sia belaka. Semuanya sama. Tidak ada satupun yang berhasil mencongkelnya. Gembok itu sudah terkunci mati.

Sebenarnya jangan khawatir, ada satu cara untuk memasuki rumah itu. Ada satu kunci cadangan. Dimana kunci yang bisa menembus gembok kuat itu. Kunci yang bisa menembus pintu bangunan itu setelah bertahun-tahun lamanya tidak pernah sekalipun terbuka. Bahkan tak seorangpun yang bisa menerobosnya, dan masuk ke dalam nya.Dan kunci itu ada, ada di dalam nya. Sebenarnya sejak ditinggal oleh penghuni lamanya, rumah itu tidak benar-benar kosong. Rumah itu tidak benar-benar hampa. Ada yang tetap tinggal disana. Dia yang selalu menjaga agar gembok itu tidak melemah. Dia yang selalu menjaga agar gembok itu tidak mudah dipatahkan. Dan bahkan, hanya melalui Dia lah gembok itu dapat terbuka kembali. Karena tak semuanya pergi, seperti kunci.

Gembok itu akan tetap kuat, gembok itu akan tetap terkunci rapat. Hingga ada yang berhasil merayu Dia.

Dia, Sang Penghuni bangunan, untuk mengizinkannya memasuki bangunan itu. Sebagai penghuni baru dan akan menetap selamanya. Bahkan sampai saat bangunan itu tak lagi bisa ditempati dan pengguni keduanya mati yang terbingkai dalam cinta abadi.

Beranda, Puisi

Rindu yang berujung temu

Malam ini aku ingin menyapa mu, boleh kah?
walaupun kau berkata tak boleh aku tetap ingin menyapamu sebentar saja

assalamualaikum kamu yang pernah menjadi bagian dalam hidupku
aku tau kau baik
melihat sosok tegarmu sore tadi itu
Betapa malam pun seakan tahu
lewat caranya mengheningkan semesta
agar sajak-sajakku segera tercipta
akan kerinduan yang kian membara

Maafkan aku, cerita kemarin itu belum ku teruskan karena aku sejak itu merasakan sebuah kehilangan akal
itu bukan maksud hati tapi keadaan yang begitu menyiksa batin ku
aku masih ingin seperti sedi kala
yang sehari-harinya berbagi cerita
dan bercumbu mesra
bahkan masih terasa
kecupan bibir mu di kening yang membuatku semakin tersiksa akan kenangan yang telah sirna

ah, Pada layar yang kau tatap berulang-ulang
Ada kabar yang semakin hilang
Entah berpaling ke lain pelukan
Atau memang sudah tak lagi diharapkan
Sejenak letakkan telingamu di dadaku. dengarkan riuhnya
menerjemahkan rindu padamu.

aku inginkan kamu yang dulu
aku masih ingin menyapamu
walaupun dengan dunia sosial media ku
tolong izinkan aku
sungguh aku merindu

Artikel, Beranda

Ukhty wa Akhi inilah Hidup

Alkisah seorang penyelam diupah untuk mengambil mutiara yang ada di dalam laut. Ia berbekal peralatan lengkap terutama oksigen, dalam jumlah tertentu atau untuk jangka waktu tertentu. Ketika menyelam ia mendapati pemandangan yang indah di dalam laut yang tertumpuk beberapa Karang sehingga ia terpesona dan terlena atas apa yang ia lihat berupa keindahan dasar laut.

Ia bercengkrama bersama ikan-ikan hias yang yang mempesona batu karang yang hampir mirip dengan mutiara, rumput laut yang ia akan sebut bunga laut dengan pesona keindahannya. Dia tak akan pernah memikirkan Bagaimana dengan nasib oksigen tersebut, ia lalai akan hal itu , ketika oksigen dalam tabungnya hampir habis. Ia baru tersadar akan tugasnya, maka dari itu ia hanya tergesa-gesa untuk mencari mutiara itu, namun semuanya terlambat karena oksigen tersebut tidak mencukupi sehingga, Ia memutuskan untuk kembali ke permukaan tanpa membawa apapun atau satu mutiara pun.

Maka dari itu akibatnya, ia harus mempertanggungjawabkan tugasnya dan ia sangat menyesal. Bahkan ia termasuk orang yang gagal dan tidak bertanggung jawab atas apa yang perintahkan nya.

Sampai disini mungkin kalian sudah paham apa yang penulis maksud dalam hal itu, menurut penulis itulah kurang lebih dari gambaran kehidupan kita di dunia.

Kita sebagai khalifah di bumi, semua Allah sudah memfasilitasi kita apa yang dibutuhkan kita Allah berikan tapi ingat ‘oksigen’ kita ada batasnya. Coba Ingat sejenak kembali kisah di atas, Ia hanya terlena oleh gemerlapnya keindahan kehidupan dunia yang fana sehingga membuat kita lalai mencari ‘mutiara’.

Tapi, kalau dilihat penyelam tadi itu tahu jatah oksigennya berapa. sedangkan kita tidak tahu kapan oksigen kita akan habis isinya, dari situlah kita tidak pernah tahu kapan ajal akan datang menjemput kita. Apakah saat terlena oleh dunia atau bagaimana? Ahh, semua tidak ada yang tau itu.

Sungguh beruntunglah jika dari kita mampu mengumpulkan mutiara sebelum jatah oksigen itu habis. Tapi alangkah sangat malang nya bila jika jatah oksigen telah habis akan tetapi kita masih terlena oleh keindahan dunia yang fana ini, sehingga tak satu mutiara pun yang berhasil kami ambil.

“Dengan menyebut namamu ya Allah izinkan kami untuk berdoa sejenak padamu.

Ya Rabbi…

Ya Ilahi…

Jadikanlah kami faham akan hakikat kehidupan dunia ini, agar kami tetap selamat dari fitnah di dalamnya dan kami mohon beri kami waktu untuk bisa mengumpulkan mutiara sebanyak-banyaknya untuk kami bawa kepada hadapanmu, sebelum ajal itu datang menjemput kita ya robb”

Ya Ukhti wa akhi Fillah hidup itu ibarat penyelam pencari mutiara jika kita terlena akan keindahan maka ambil lah resiko terbesar kau tak akan mendapatkan satupun mutiara

(Terinspirasi penulis Abdullah Hadrami)

Artikel, Beranda

Man Ana???

Allah memerintahkan kita untuk selalu bertafakur memikirkan tentang alam semesta dalam FirmanNya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan selisih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri ataupun duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi Seraya berkata “Ya Rabb kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran 3: 190-191)

Aku pernah mencoba untuk berdiri di tengah hamparan laut yang luas dan di dalamnya Aku merenung.

Aku mencoba melihat pada setiap inci sisi kanan, kiri, depan bahkan belakang semuanya lautan.

Tak kupungkiri lagi aku mencoba melihat keatas yang tampak hanyalah langit yang tak terjangkau besarnya beserta gumpalan awannya, matahari pada waktu siangnya, bulan dan bintang-bintang pada waktu gelap malam nya.

Aku kembali melihat ke bawah yang tampak hanyalah lautan yang kedalamannya bisa diukur dengan manusia, tapi sebaliknya lauyan tak seperti hati manusia yang tak bisa diukur oleh manusianya sendiri.

Subhanallah Maha Suci engkau ya Rabb…

Man Ana?
Apalah artinya aku?
Aku bukan lah siapa-siapa

Alam semesta yang sedemikian besar dan dahsyatnya menjadikan aku merasa benar-benar tidak ada apa-apanya Dan aku bukanlah siapa-siapa. Bahkan aku merasa bukan bagian darinya, aku rasa Aku lah yang merusak semuanya.

Mulai dari ketika aku dilahirkan oleh bundaku, aku tidak memiliki apa-apa bahkan aku tidak memakai sehelai benang yang ada pada tubuh mungilku.
Allah berfirman dalam Alquran : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun dan dia memberi kamu pendengaran penglihatan dan hati agar kamu bersyukur” (Q.S. An – Nahl 16: 78).

Ketika aku mati nanti, aku juga tidak akan membawa apa-apa selain amal perbuatan ku di dunia.

Aku percaya, bahkan sungguh dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau saja. Bahkan bisa kusebut dunia ini adalah panggung sandiwara, dan tidak lebih dari itu.

Mari kita mencoba intropeksi diri. Betapa banyak dari kita menyombongkan ilmu, harta atau apa saja yang kita miliki. Berapa kali kita lalai akan perintahnya, kita lupa akan semua yang harus dilakukan kita sebagai mahluk Nya.

Aku tau hanya kematian lah yang akan menjadikan kita tersadar dan sangat menyesal. Karena sandiwara telah berakhir, akan tetapi kita sadari juga akan penyesalan sudah berakhir dan sudah tidak ada gunanya lagi.
Bahkan kematian adalah awal kehidupan yang sebenarnya dan tidak ada sandiwara lagi setelah itu.

Apakah kalian lupa bukankah Kita terlahir ke dunia ini tak ubahnya bagaikan batu kerikil ditelan lautan?

Bahkan bagaikan terlempar ke ruang semesta yang luasnya tak terjangkau dengan Nalar.

Jangankan diri kita, sedangkan planet Pluto saja bagaikan sebuah kerikil kecil ditengah taburan planet yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan ia pun tak disebut planet.

Lalu Man Ana?

Lalu apa yang kita miliki?

Apa yang patut kita sombongkan?

Ya ilahi, Ya Rabbi, Ya Allah, Duhai penciptaku…
Diriku hanya hamba yang begitu miskin papa dihadapan Kuasamu, dosaku bagai buih di lautan, amal ketaatan ku keramat sangat kecil bagaikan biji selasih, hatiku yang selalu berbolak- balik, perjalananku sangat jauh dari engkau, bekalku untuk menujumu belum aku cukupi, tapi ajalku semakin dekat. Harapanku Engkau Ya Rahman,Ya Rahiim, Ya Ghaffuur, Ya Tawwaab, Ya Ra’uuuf berkenan mengasihi hambamu ini, menyayangi, memaafkan, menerima taubat, dan memberikan kami kasih sayang pada hambamu yang begitu lemah ini.

Ya Allah pengobat jiwa dan hatiku…

aku ingin kelak ketika nyawa hamba dicabut akan dikatakan pada hamba seperti firman mu dalam surat Al Fajr ayat 27-30 “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-nya. Maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hamba-ku. Masuklah ke dalam surga ku”