Pada waktu itu hilangmu, aku menulis sederet puisi patah, jatuh sebanyak rasa mencintai lalu mendulang nyeri hingga nadi. Aku mengabadikan kehilangan di banyak mata yang hatinya hampa, di sekian kepala yang ingatannya penuh rindu.
Kau bilang kamu kalah
Kau bilang kamu patah
Coba fikirkan jiwa wanita begitu lemah
Hati wanita yang sudah luluh lantak
Memikirkan mu yang kian menjaga jarak
Sulit untuk ku bangkit
Perseteruan mu begitu sengit
Kau tak peduli bahwa yang aku rasakan adalah pahit.
Tapi, camkan aku tak pernah berhenti memaafkanmu,
Meski berkali-kali kau sakiti.
Bukan hati tak merasa pedih,
Namun cinta membuatku tak sanggup membenci.
Dan jika ini kelemahan,
Akan kujadikan pembuktian,
Bahwa dalam deritaku, ada gairah membahagiakanmu.
Kau tau tidak? karena dalam ingatan, beberapa hal akan samar dan kian terlupakan. oleh sebab itu aku menulis, kenangan yang kini terlukis.