Artikel, Puisi

Memilih Mengikhlaskan

Beberapa tahun yang lalu

Takdir Allah menyapaku dan menyapamu

Sebuah kejadian tak sengaja yang dapat menumbuhkan sebuah rasa

Awalnya hanya saling menunduk kan pandangan ketika sebelum dan sesudah sholat subuh masa itu, namun akhirnya berkembang hingga berubah menjadi kenangan.

Berkembang dari rasa kagum

Berkembang menjadi suka

Berkembang menjadi cinta

Dan akhirnya berkembang menjadi sebuah cerita dengan tidak bahagia

Dimana ini, aku mendapatkan sebuah kabar tentang mu.

Malam ini aku terdiam sendiri, berteman dengan langit kelabu, angin yang menusuk tulangku, dan sunyinya malam yang setia menemaniku.

Kau mengabarkan padaku lewat media sosialmu, bahwa kau telah menemukan tulang rusuk mu.

Padahal andai kau tau, tadi malam aku sempat bermimpi tentangmu, dalam mimpi itu aku memengang tangan mu. Kau tampak bahagia selalu. Dan ternyata kenyataan nya tak seperti mimpi indahku.

Kenyataannya aku melihat mu mengendarai laju mobilmu dengan saling berpegangan erat pada tulang rusukmu.

Runtuh sudah harapanku, harapanku bersanding denganmu, harapanku membangun bahtera cinta bersamamu.

Bismillah ya Rabb saat ini aku memilih untuk mengikhlaskan (Ilvm)

Beranda, Cerpen

Pemilik Sajadah

Apa kabar kamu… ?

Aku harap jika kamu sedang membaca tulisanku ini kau balas dengan senyumanmu ya, aku rindu kisah kita pada masa lalu, namun saat ini hanya menjadi ‘Halu’

Hai cinta subuh… masih mengingat kata itu tidak? Saat itu menjadi kisah awal perjumpaan kita, menjadi kisah awal cerita kita, sempat ya kita bangun khayalan bersama-sama hingga pada akhirnya pada masalah bangun rumah tangga hehe… tapi tak apalah semoga saling diganti dengan yang lebih baik ya. Oiya… 2 tahun yang lalu kita sempat bertemu, hingga aku pun pernah menuliskan kisah perjumpaan kita dengan “Rindu yang berujung temu”.

Saat ini aku memang tidak memilikimu seutuhnya, dan kamu tidak memilikiku sepenuhnya. Kita di takdirkan hanya untuk di pertemukan tapi tidak di satukan. Cukup bahagia ya dengan skenario tuhan. Memang kisah kita yang telah usang, kembali terbayang dan selalu aku kenang
Saat kau tinggalkan sebuah kecupan.

Ku dengar kabarmu sudah bahagia ya, Masya Allah semoga senantiasa kebahagian menyertai kalian berdua ya. Aku hanya bisa menitipkan rasa lewat sajadah ini untuk sampai pada pemilik sajadah yang sebenarnya. Jiwaku masih terus menerus lima kali dalam sehari sholatku, aku tetap mengingat pemilik sajadah ini. Jadi jangan tanya. Apakah aku sudah tidak mengingatmu? Apakah aku sudah melupakanmu?

TIDAK. Wajahmu masih terbayang, kasih sayangmu masih membayang. Walau sebatas kenangan yang telah usang.

Satu pesanku jika ingin pergi, ucapkan selamat tinggal. setidaknya itu akan jadi alasan yang tepat agar aku bisa mengikhlaskan.

ILVM 🍃