
Berawal dari sebuah amanah yang telah mereka amanahkan kepada kami. Hingga membuat kami setiap minggunya bersama. Berbagi ilmu, berbagi rasa kekeluargaan, bahkan begitu banyak hal yang kami bagikan dalam kebersamaan itu mustahil ku tulisnya satu persatu. Kami mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Syaichona Moh. Cholil Bangkalan. Desember 2018 kami resmi Berawal dari sebuah amanah yang telah mereka amanahkan kepada kami. Hingga membuat kami setiap minggunya bersama. Berbagi ilmu, berbagi rasa kekeluargaan, bahkan begitu banyak hal yang kami bagikan dalam kebersamaan itu mustahil ku tulisnya satu persatu. Kami mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Syaichona Moh. Cholil Bangkalan. Desember 2018 kami resmi berada di sebuah naungan organisasi yang sama. Singkat cerita saya perkenalkan dulu ya teman-teman saya. Saya mulai dari yang mempunyai jiwa mengayomi siapa lagi kalau bukan Uyunur Rohmah, beliau yang selalu sabar di antara kami. Jiwa keibuan nya pun begitu tampak. Lanjut untuk yang mempunyai jiwa yang tangguh yakni Qurrotu A’yun beliau sosok wanita tapi tak kenal putus asa. Dan yang terakhir saya sendiri Luluk Illiyah entah saya tak seperti mereka berdua itu. Lambat laun seiring berputarnya sang waktu. Semakin hari rasa kekeluargaan dan rasa memiliki semakin erat. Tak butuh waktu lama untuk hal itu, kami saling memotivasi, saling berjuang bersama demi kemaslahatan baik bagi kami sendiri atau pun orang lain. Kami ini menciptakan sejarah bahkan perubahan perihal presfektif mahasiswa di kampus kami bahkan mengenai keilmuannya pula. Hingga sampai saat ini kami masih berusaha dan berusaha akan menciptakan keabadian.
Senja mentari nampak tersenyum oleh kicauan burung-burung yang selalu riang membawakan lagu syahdu dalam alunan irama yang merdu. Gelap telah menanti di ujung senja, sementara obor raksasa melambai-lambai di atas hamparan langit biru. Semakin dalam matahari tenggelam, dunia semakin nampak mencekam. Pada Kamis, 21 Maret 2019 sekitar jam 8.30 jemari lentik ku bermain bersama komputer aku mempunyai tekad untuk mengikuti event bussines plan competition tingkat Madura yang di adakan oleh himpunan mahasiswa IAIN Madura. Hingga keheningan malam yang begitu sunyi aku masih asik bermain dengan jemariku hingga esoknya tetap ku setia bersamanya. Pengumpulan terakhir saat ini 23 Maret 2019 bergegas ku temui sosok lelaki yang aku sebelumnya sudah meminta bantuan kepadanya. Tepat sore itu aku segera mengirimnya. Dalam benak ku, sampai inilah usaha saya dalam ajang bergengsi ini. Jika lolos berarti ini sudah kehendak yang kuasa.
Lembayung sutra di ufuk timur sana kembali bercahaya, menyayat gelap di antara ranting-ranting jiwa yang semakin resah oleh hasil kerja kami. Tak ada lagi suara-suara indah nan merdu tersabgkut di setial daun telingan. Hanyalah terdengar bisik-bisik dilema di dalamnya.
“Ah, rasanya aku terlalu takut dengan hasil dan pengumuman.” Gaumku dalam hati.
Ting tung ting tung ting (notif WhatApps) ku kembali berbunyi. Ku fikir itu dari someone ku segera ku buka menggunakan fingerpin. Rupanya bukan tapi, no baru yang tak ku kenal langsung ku buka.
“Allah ini pengumunan pemenang” segeraku download dokumen itu. Dengan hati yang takut, ucap sholawat kembali ku gaumkan dalam hati. Bismillah wa biidzinillah ya Allah. Akhirnya ku peluk sahabat di sampingku yakni a’yun. Sambil ku ucap “kita lolos masuk 10 finalis besar” tak terasa ingin ku teteskan sebuah air mata namun aku malu.
Tutur uyun “kita berangkat beneran ke pamekasan” dengan senyum sumringahnya yang menguatkan jiwa kami.
Mentari di ufuk timur tampak tersenyum bahagia menyinari di seluruh belahan bumi, menyingsing gelap di antara rerimbunan yang menguap. Pagi yang cerah sangat dirasakan oleh kita semua. Kita tampak tergesa-gesa menuju pintu gerbang kampus IAIN Madura itu. Nampaknya kita seolah-olah siap beradu bersama kampus yang mempunyai title yang woow dengan presfektif mahasiswanya hebat hebat.
Kita berangkat dengan membawa penghangat produk kami. Hingga sampai di tempat kita di buat bahan bully ada yang bilang “Ukhty, bawa nasi tah” kita hanya tersenyum merkah.
Tak hanya itu kembali di sambung dengan yang lain nya “Ukhty bawa Es lilin tah?” Tampaknya kita sangat tak peduli dengan hal itu. Tiba pada acara inti, saat itu luluk sendiri mengambil no undian akhirnya dengan pembacaan bismillahirrohmanirrohim ku buka akhirnya no urut terakhir.
Waktu terus bergulir seperti kilat. Satu per satu mempresentasikan produknya dengan inovasi kreatif mereka “Masya Allah produknya mereka bagus-bagus” ucapku pada uyun.
Tak lama kemudian uyun bilang “luk aku malu dengan produk kita” bisiknya.
“Sama akupun begitu, meraka kreatif sedangkan kita produk yang terbuat dari singkong aku tidak sanggup dengan ucapan juri. Ini jajan pasaran” sahutku.
“Sudah tidak masalah kita sudah ada di sini mau mundur kita gak bisa, wes kita tabrak aja. Kita kembali pada niat awal kita, disini kita cari pengalaman” ucap uyun.
Dengan rasa yang pesimis terus menyelimutiku. A’yun dan uyun rupanya tak tega melihatku. Aku memang kecil hati, se akan-akan aku malu sama mereka.
“Kenapa kita harus masuk ke babak ini” ucap uyun kembali membuatku down
“Entahlah” jawab ku singkat.
“Sudahlah luk, kamu harus tetap optimis” tutur a’yun sambil memegang tangan ku.
Akhirnya aku pengang tangan mereka sebagai simbol aku akan kuat bersama meraka. Saat ini mulailah ada kekuatan yang di berikan mereka padaku. hingga pada akhirnya giliran kita yang mempresentasikan produk kami. Dengan niat mengharap ridhonya. Akhirnya tahap demi tahap kita lalui bersama hingga kita mendapat perhatian dari juri dan para audien.
Hingga tiba saatnya pada pengumuman pemenang, So, kita mendapatkan juara harapan 1 tingkat Madura.
berada di sebuah naungan organisasi yang sama. Singkat cerita saya perkenalkan dulu ya teman-teman saya. Saya mulai dari yang mempunyai jiwa mengayomi siapa lagi kalau bukan Uyunur Rohmah, beliau yang selalu sabar di antara kami. Jiwa keibuan nya pun begitu tampak. Lanjut untuk yang mempunyai jiwa yang tangguh yakni Qurrotu A’yun beliau sosok wanita tapi tak kenal putus asa. Dan yang terakhir saya sendiri Luluk Illiyah entah saya tak seperti mereka berdua itu.
Lambat laun seiring berputarnya sang waktu. Semakin hari rasa kekeluargaan dan rasa memiliki semakin erat. Tak butuh waktu lama untuk hal itu, kami saling memotivasi, saling berjuang bersama demi kemaslahatan baik bagi kami sendiri atau pun orang lain. Kami ini menciptakan sejarah bahkan perubahan perihal presfektif mahasiswa di kampus kami bahkan mengenai keilmuannya pula. Hingga sampai saat ini kami masih berusaha dan berusaha akan menciptakan keabadian.
Senja mentari nampak tersenyum oleh kicauan burung-burung yang selalu riang membawakan lagu syahdu dalam alunan irama yang merdu. Gelap telah menanti di ujung senja, sementara obor raksasa melambai-lambai di atas hamparan langit biru. Semakin dalam matahari tenggelam, dunia semakin nampak mencekam. Pada Kamis, 21 Maret 2019 sekitar jam 8.30 jemari lentik ku bermain bersama komputer aku mempunyai tekad untuk mengikuti event bussines plan competition tingkat Madura yang di adakan oleh himpunan mahasiswa IAIN Madura. Hingga keheningan malam yang begitu sunyi aku masih asik bermain dengan jemariku hingga esoknya tetap ku setia bersamanya. Pengumpulan terakhir saat ini 23 Maret 2019 bergegas ku temui sosok lelaki yang aku sebelumnya sudah meminta bantuan kepadanya. Tepat sore itu aku segera mengirimnya. Dalam benak ku, sampai inilah usaha saya dalam ajang bergengsi ini. Jika lolos berarti ini sudah kehendak yang kuasa.
Lembayung sutra di ufuk timur sana kembali bercahaya, menyayat gelap di antara ranting-ranting jiwa yang semakin resah oleh hasil kerja kami. Tak ada lagi suara-suara indah nan merdu tersabgkut di setial daun telingan. Hanyalah terdengar bisik-bisik dilema di dalamnya. “Ah, rasanya aku terlalu takut dengan hasil dan pengumuman.” Gaumku dalam hati.
Ting tung ting tung ting (notif WhatApps) ku kembali berbunyi. Ku fikir itu dari someone ku segera ku buka menggunakan fingerpin. Rupanya bukan tapi, no baru yang tak ku kenal langsung ku buka. “Allah ini pengumunan pemenang” segeraku download dokumen itu. Dengan hati yang takut, ucap sholawat kembali ku gaumkan dalam hati. Bismillah wa biidzinillah ya Allah. Akhirnya ku peluk sahabat di sampingku yakni a’yun. Sambil ku ucap “kita lolos masuk 10 finalis besar” tak terasa ingin ku teteskan sebuah air mata namun aku malu. Tutur uyun “kita berangkat beneran ke pamekasan” dengan senyum sumringahnya yang menguatkan jiwa kami.
Mentari di ufuk timur tampak tersenyum bahagia menyinari di seluruh belahan bumi, menyingsing gelap di antara rerimbunan yang menguap. Pagi yang cerah sangat dirasakan oleh kita semua. Kita tampak tergesa-gesa menuju pintu gerbang kampus IAIN Madura itu. Nampaknya kita seolah-olah siap beradu bersama kampus yang mempunyai title yang woow dengan presfektif mahasiswanya hebat hebat.
Kita berangkat dengan membawa penghangat produk kami. Hingga sampai di tempat kita di buat bahan bully ada yang bilang “Ukhty, bawa nasi tah” kita hanya tersenyum merkah. Tak hanya itu kembali di sambung dengan yang lain nya “Ukhty bawa Es lilin tah?” Tampaknya kita sangat tak peduli dengan hal itu. Tiba pada acara inti, saat itu luluk sendiri mengambil no undian akhirnya dengan pembacaan bismillahirrohmanirrohim ku buka akhirnya no urut terakhir.
Waktu terus bergulir seperti kilat. Satu per satu mempresentasikan produknya dengan inovasi kreatif mereka “Masya Allah produknya mereka bagus-bagus” ucapku pada uyun. Tak lama kemudian uyun bilang “luk aku malu dengan produk kita” bisiknya.
“Sama akupun begitu, meraka kreatif sedangkan kita produk yang terbuat dari singkong aku tidak sanggup dengan ucapan juri. Ini jajan pasaran” sahutku.
“Sudah tidak masalah kita sudah ada di sini mau mundur kita gak bisa, wes kita tabrak aja. Kita kembali pada niat awal kita, disini kita cari pengalaman” ucap uyun
Dengan rasa yang pesimis terus menyelimutiku. A’yun dan uyun rupanya tak tega melihatku. Aku memang kecil hati, se akan-akan aku malu sama mereka.
“Kenapa kita harus masuk ke babak ini” ucap uyun kembali membuatku down
“Entahlah” jawab ku singkat.
“Sudahlah luk, kamu harus tetap optimis” tutur a’yun sambil memegang tangan ku.
Akhirnya aku pengang tangan mereka sebagai simbol aku akan kuat bersama meraka. Saat ini mulailah ada kekuatan yang di berikan mereka padaku. hingga pada akhirnya giliran kita yang mempresentasikan produk kami. Dengan niat mengharap ridhonya. Akhirnya tahap demi tahap kita lalui bersama hingga kita mendapat perhatian dari juri dan para audien.
Hingga tiba saatnya pada pengumuman pemenang, So, kita mendapatkan juara harapan 1 tingkat Madura. Kita pulang dengan penuh cerita, dengan kebahagiaan yang tiada tara. Jadi kita semua tau arti sebuah perjuangan.