Beranda, Cerpen

Pemilik Sajadah

Apa kabar kamu… ?

Aku harap jika kamu sedang membaca tulisanku ini kau balas dengan senyumanmu ya, aku rindu kisah kita pada masa lalu, namun saat ini hanya menjadi ‘Halu’

Hai cinta subuh… masih mengingat kata itu tidak? Saat itu menjadi kisah awal perjumpaan kita, menjadi kisah awal cerita kita, sempat ya kita bangun khayalan bersama-sama hingga pada akhirnya pada masalah bangun rumah tangga hehe… tapi tak apalah semoga saling diganti dengan yang lebih baik ya. Oiya… 2 tahun yang lalu kita sempat bertemu, hingga aku pun pernah menuliskan kisah perjumpaan kita dengan “Rindu yang berujung temu”.

Saat ini aku memang tidak memilikimu seutuhnya, dan kamu tidak memilikiku sepenuhnya. Kita di takdirkan hanya untuk di pertemukan tapi tidak di satukan. Cukup bahagia ya dengan skenario tuhan. Memang kisah kita yang telah usang, kembali terbayang dan selalu aku kenang
Saat kau tinggalkan sebuah kecupan.

Ku dengar kabarmu sudah bahagia ya, Masya Allah semoga senantiasa kebahagian menyertai kalian berdua ya. Aku hanya bisa menitipkan rasa lewat sajadah ini untuk sampai pada pemilik sajadah yang sebenarnya. Jiwaku masih terus menerus lima kali dalam sehari sholatku, aku tetap mengingat pemilik sajadah ini. Jadi jangan tanya. Apakah aku sudah tidak mengingatmu? Apakah aku sudah melupakanmu?

TIDAK. Wajahmu masih terbayang, kasih sayangmu masih membayang. Walau sebatas kenangan yang telah usang.

Satu pesanku jika ingin pergi, ucapkan selamat tinggal. setidaknya itu akan jadi alasan yang tepat agar aku bisa mengikhlaskan.

ILVM 🍃

Beranda, Cerpen

Emosi Bukanlah Solusi

Malam itu sepasang kekasih kembali bertemu setelah beberapa minggu tak saling bertukar kabar. Bukan dengan alasan yang jelas, hanya saja mereka tidak ingin saling mengerti kondisi satu sama lain.

“Sebulan terakhir kamu kemana aja?”
tanya seorang gadis sambil menatap tajam kekasihnya, Arya.

“Saya sibuk, mey.” jawaban yang sangat singkat dikeluarkan Arya, tanpa menjelaskan alasannya.

“Sibuk atau bosan?” bukannya tidak percaya, Meyli hanya ingin memastikan jawaban kekasihnya.

“Kamu ga percaya sama saya? Saya kira malam ini kita bisa menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, bukan untuk menambah masalah.” jawaban yang sedikit menggores hati Meyli, karena bukan itu maksud dari pertanyaannya.

“Bukan gitu, Arya. Aku juga gamau kita berantem lagi, aku tanya kaya gitu cuman mau mastiin aja.”

“Berarti kamu ga percaya sama saya kan sampai harus mastiin ulang? Udahlah, saya capek mau pulang. Kalau masih ada yang mau diomongin besok aja, kamu pulang terus tidur. Saya duluan.” setelah mengatakan kalimat yang lumayan panjang, Arya langsung bergegas pulang. Bukan tidak peduli, ia hanya tidak ingin memperpanjang masalah.

“Iya, maaf ya.” jawab Meyli singkat, sambil meneteskan air mata yang sudah tidak bisa ditahan.

Tidak ada yang bisa disalahkan, hanya saja sepasang kekasih itu tak bisa mengerti satu sama lain. Pertemuan dengan rasa lelah bercampur emosi, hanya menambah masalah tanpa ada solusi.

Cerpen

Akhir bulan, akhir hubungan?

Yah, Selamat pagi…

Sebelum aku menyapa mu, menanyakan kabar mu. Ingin ku sampaikan salamku dahulu.

Assalamualaikum Wr. Wb

Yah, bagaimana kabarmu di sana, sehat kan? Jangan lupa makan, jangan lupa istirahat juga. Tetep jaga kesehatan nya.

Cuaca sekarang lagi dingin, jangan terlalu sibuk hingga tak memikirkan kesehatan nya. Kamu baik-baik ya, jangan siksa dirimu sendiri !!!

Yah, pagi hampir siang ini kutulis kisah kita di penghujung juni, bersama hawa dingin yang menyelimuti raga ini. Hingga membawanya entah kemana.

Yah, mungkin hanya dirimu yang tau maksudnya setelah perjumpaan kita di penghujung bulan juni itu. Rasanya aku tak percaya dengan sikap dingin mu pada ku, bahkan biasanya kamu selalu menanyakan keberadaan ku. Masih terekam semua nya ” Sudah sampai?” Tapi kata itu tak ada lepas itu.

Hingga aku menunggu hingga malam itu. Tapi, satu huruf pun tak kau katakan hingga saat ini dan detik ini.

Kala itu angin membawa ku terbang bersamamu menikmati sebuah pertemuan yang di inginkan oleh sepasang insan yang di nobatkan dalam asmara cinta, hingga aku merasakan akulah pemilik cinta itu kala bersamamu. Ku mencoba memeluk mu, rasanya saat itu tak ingin ku lepas satu jari pun dari mu. Aku tau artinya kerinduan, aku pun tau artinya jikalau aku kehilangan. Suasana saat itu yang membedakan dengan pertemuan sebelum-sebelum nya, entah mungkin firasat hati yang sudah mengetahui, aku dan kamu akan seperti ini. Aku sudah pasrah yah, aku ikhlas jikalau kamu benar-benar ingin pergi. Aku persilahkan, tapi aku ingin perkataan itu muncul dari mu. Hingga tak ada beban bagiku terpuruk dalam sikap diam mu. Aku masih ingin mengatakan, “Aku masih rindu yah”

Terus terang yah, aku seperti ada di suatu jurang yang begitu dalam, hanya suara mu, tak usah banyak kata kalau memang iya katakan “sudah” aku faham maksudnya. Dari pada aku terus seperti ini.

Bukan lagi maksud ku tidak mau berjuang, tapi dari sikapmu aku sudah faham. Saat ku lanjutkan tulisan ini, senyum sumringah, canda tawa aah terlalu banyak ku ingat hingga tak sanggup ku ingat lagi, sudah kesekian kali air mata membelah pipi.

Sudah maafkan aku, mungkin aku yang terlalu egois pada perasaan hatiku, sementara kamu tak ingin itu. Percayalah suatu saat aku dan kamu akan mengerti apa yang terjadi.

Beranda, Cerpen

Titah perjuangan

Berawal dari sebuah amanah yang telah mereka amanahkan kepada kami. Hingga membuat kami setiap minggunya bersama. Berbagi ilmu, berbagi rasa kekeluargaan, bahkan begitu banyak hal yang kami bagikan dalam kebersamaan itu mustahil ku tulisnya satu persatu. Kami mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Syaichona Moh. Cholil Bangkalan. Desember 2018 kami resmi Berawal dari sebuah amanah yang telah mereka amanahkan kepada kami. Hingga membuat kami setiap minggunya bersama. Berbagi ilmu, berbagi rasa kekeluargaan, bahkan begitu banyak hal yang kami bagikan dalam kebersamaan itu mustahil ku tulisnya satu persatu. Kami mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Syaichona Moh. Cholil Bangkalan. Desember 2018 kami resmi berada di sebuah naungan organisasi yang sama. Singkat cerita saya perkenalkan dulu ya teman-teman saya. Saya mulai dari yang mempunyai jiwa mengayomi siapa lagi kalau bukan Uyunur Rohmah, beliau yang selalu sabar di antara kami. Jiwa keibuan nya pun begitu tampak. Lanjut untuk yang mempunyai jiwa yang tangguh yakni Qurrotu A’yun beliau sosok wanita tapi tak kenal putus asa. Dan yang terakhir saya sendiri Luluk Illiyah entah saya tak seperti mereka berdua itu. Lambat laun seiring berputarnya sang waktu. Semakin hari rasa kekeluargaan dan rasa memiliki semakin erat. Tak butuh waktu lama untuk hal itu, kami saling memotivasi, saling berjuang bersama demi kemaslahatan baik bagi kami sendiri atau pun orang lain. Kami ini menciptakan sejarah bahkan perubahan perihal presfektif mahasiswa di kampus kami bahkan mengenai keilmuannya pula. Hingga sampai saat ini kami masih berusaha dan berusaha akan menciptakan keabadian.

Senja mentari nampak tersenyum oleh kicauan burung-burung yang selalu riang membawakan lagu syahdu dalam alunan irama yang merdu. Gelap telah menanti di ujung senja, sementara obor raksasa melambai-lambai di atas hamparan langit biru. Semakin dalam matahari tenggelam, dunia semakin nampak mencekam. Pada Kamis, 21 Maret 2019 sekitar jam 8.30 jemari lentik ku bermain bersama komputer aku mempunyai tekad untuk mengikuti event bussines plan competition tingkat Madura yang di adakan oleh himpunan mahasiswa IAIN Madura. Hingga keheningan malam yang begitu sunyi aku masih asik bermain dengan jemariku hingga esoknya tetap ku setia bersamanya. Pengumpulan terakhir saat ini 23 Maret 2019 bergegas ku temui sosok lelaki yang aku sebelumnya sudah meminta bantuan kepadanya. Tepat sore itu aku segera mengirimnya. Dalam benak ku, sampai inilah usaha saya dalam ajang bergengsi ini. Jika lolos berarti ini sudah kehendak yang kuasa.

Lembayung sutra di ufuk timur sana kembali bercahaya, menyayat gelap di antara ranting-ranting jiwa yang semakin resah oleh hasil kerja kami. Tak ada lagi suara-suara indah nan merdu tersabgkut di setial daun telingan. Hanyalah terdengar bisik-bisik dilema di dalamnya.

“Ah, rasanya aku terlalu takut dengan hasil dan pengumuman.” Gaumku dalam hati.

Ting tung ting tung ting (notif WhatApps) ku kembali berbunyi. Ku fikir itu dari someone ku segera ku buka menggunakan fingerpin. Rupanya bukan tapi, no baru yang tak ku kenal langsung ku buka.

“Allah ini pengumunan pemenang” segeraku download dokumen itu. Dengan hati yang takut, ucap sholawat kembali ku gaumkan dalam hati. Bismillah wa biidzinillah ya Allah. Akhirnya ku peluk sahabat di sampingku yakni a’yun. Sambil ku ucap “kita lolos masuk 10 finalis besar” tak terasa ingin ku teteskan sebuah air mata namun aku malu.

Tutur uyun “kita berangkat beneran ke pamekasan” dengan senyum sumringahnya yang menguatkan jiwa kami.

Mentari di ufuk timur tampak tersenyum bahagia menyinari di seluruh belahan bumi, menyingsing gelap di antara rerimbunan yang menguap. Pagi yang cerah sangat dirasakan oleh kita semua. Kita tampak tergesa-gesa menuju pintu gerbang kampus IAIN Madura itu. Nampaknya kita seolah-olah siap beradu bersama kampus yang mempunyai title yang woow dengan presfektif mahasiswanya hebat hebat.

 

Kita berangkat dengan membawa penghangat produk kami. Hingga sampai di tempat kita di buat bahan bully ada yang bilang “Ukhty, bawa nasi tah” kita hanya tersenyum merkah.

Tak hanya itu kembali di sambung dengan yang lain nya “Ukhty bawa Es lilin tah?” Tampaknya kita sangat tak peduli dengan hal itu. Tiba pada acara inti, saat itu luluk sendiri mengambil no undian akhirnya dengan pembacaan bismillahirrohmanirrohim ku buka akhirnya no urut terakhir.

 

Waktu terus bergulir seperti kilat. Satu per satu mempresentasikan produknya dengan inovasi kreatif mereka “Masya Allah produknya mereka bagus-bagus” ucapku pada uyun.

Tak lama kemudian uyun bilang “luk aku malu dengan produk kita” bisiknya.

“Sama akupun begitu, meraka kreatif sedangkan kita produk yang terbuat dari singkong aku tidak sanggup dengan ucapan juri. Ini jajan pasaran” sahutku.

“Sudah tidak masalah kita sudah ada di sini mau mundur kita gak bisa, wes kita tabrak aja. Kita kembali pada niat awal kita, disini kita cari pengalaman” ucap uyun.

Dengan rasa yang pesimis terus menyelimutiku. A’yun dan uyun rupanya tak tega melihatku. Aku memang kecil hati, se akan-akan aku malu sama mereka.

“Kenapa kita harus masuk ke babak ini” ucap uyun kembali membuatku down

“Entahlah” jawab ku singkat.

“Sudahlah luk, kamu harus tetap optimis” tutur a’yun sambil memegang tangan ku.

Akhirnya aku pengang tangan mereka sebagai simbol aku akan kuat bersama meraka. Saat ini mulailah ada kekuatan yang di berikan mereka padaku. hingga pada akhirnya giliran kita yang mempresentasikan produk kami. Dengan niat mengharap ridhonya. Akhirnya tahap demi tahap kita lalui bersama hingga kita mendapat perhatian dari juri dan para audien.

 

Hingga tiba saatnya pada pengumuman pemenang, So, kita mendapatkan juara harapan 1 tingkat Madura.

berada di sebuah naungan organisasi yang sama. Singkat cerita saya perkenalkan dulu ya teman-teman saya. Saya mulai dari yang mempunyai jiwa mengayomi siapa lagi kalau bukan Uyunur Rohmah, beliau yang selalu sabar di antara kami. Jiwa keibuan nya pun begitu tampak. Lanjut untuk yang mempunyai jiwa yang tangguh yakni Qurrotu A’yun beliau sosok wanita tapi tak kenal putus asa. Dan yang terakhir saya sendiri Luluk Illiyah entah saya tak seperti mereka berdua itu.

Lambat laun seiring berputarnya sang waktu. Semakin hari rasa kekeluargaan dan rasa memiliki semakin erat. Tak butuh waktu lama untuk hal itu, kami saling memotivasi, saling berjuang bersama demi kemaslahatan baik bagi kami sendiri atau pun orang lain. Kami ini menciptakan sejarah bahkan perubahan perihal presfektif mahasiswa di kampus kami bahkan mengenai keilmuannya pula. Hingga sampai saat ini kami masih berusaha dan berusaha akan menciptakan keabadian.

Senja mentari nampak tersenyum oleh kicauan burung-burung yang selalu riang membawakan lagu syahdu dalam alunan irama yang merdu. Gelap telah menanti di ujung senja, sementara obor raksasa melambai-lambai di atas hamparan langit biru. Semakin dalam matahari tenggelam, dunia semakin nampak mencekam. Pada Kamis, 21 Maret 2019 sekitar jam 8.30 jemari lentik ku bermain bersama komputer aku mempunyai tekad untuk mengikuti event bussines plan competition tingkat Madura yang di adakan oleh himpunan mahasiswa IAIN Madura. Hingga keheningan malam yang begitu sunyi aku masih asik bermain dengan jemariku hingga esoknya tetap ku setia bersamanya. Pengumpulan terakhir saat ini 23 Maret 2019 bergegas ku temui sosok lelaki yang aku sebelumnya sudah meminta bantuan kepadanya. Tepat sore itu aku segera mengirimnya. Dalam benak ku, sampai inilah usaha saya dalam ajang bergengsi ini. Jika lolos berarti ini sudah kehendak yang kuasa.

Lembayung sutra di ufuk timur sana kembali bercahaya, menyayat gelap di antara ranting-ranting jiwa yang semakin resah oleh hasil kerja kami. Tak ada lagi suara-suara indah nan merdu tersabgkut di setial daun telingan. Hanyalah terdengar bisik-bisik dilema di dalamnya. “Ah, rasanya aku terlalu takut dengan hasil dan pengumuman.” Gaumku dalam hati.

Ting tung ting tung ting (notif WhatApps) ku kembali berbunyi. Ku fikir itu dari someone ku segera ku buka menggunakan fingerpin. Rupanya bukan tapi, no baru yang tak ku kenal langsung ku buka. “Allah ini pengumunan pemenang” segeraku download dokumen itu. Dengan hati yang takut, ucap sholawat kembali ku gaumkan dalam hati. Bismillah wa biidzinillah ya Allah. Akhirnya ku peluk sahabat di sampingku yakni a’yun. Sambil ku ucap “kita lolos masuk 10 finalis besar” tak terasa ingin ku teteskan sebuah air mata namun aku malu. Tutur uyun “kita berangkat beneran ke pamekasan” dengan senyum sumringahnya yang menguatkan jiwa kami.

Mentari di ufuk timur tampak tersenyum bahagia menyinari di seluruh belahan bumi, menyingsing gelap di antara rerimbunan yang menguap. Pagi yang cerah sangat dirasakan oleh kita semua. Kita tampak tergesa-gesa menuju pintu gerbang kampus IAIN Madura itu. Nampaknya kita seolah-olah siap beradu bersama kampus yang mempunyai title yang woow dengan presfektif mahasiswanya hebat hebat.

Kita berangkat dengan membawa penghangat produk kami. Hingga sampai di tempat kita di buat bahan bully ada yang bilang “Ukhty, bawa nasi tah” kita hanya tersenyum merkah. Tak hanya itu kembali di sambung dengan yang lain nya “Ukhty bawa Es lilin tah?” Tampaknya kita sangat tak peduli dengan hal itu. Tiba pada acara inti, saat itu luluk sendiri mengambil no undian akhirnya dengan pembacaan bismillahirrohmanirrohim ku buka akhirnya no urut terakhir.

Waktu terus bergulir seperti kilat. Satu per satu mempresentasikan produknya dengan inovasi kreatif mereka “Masya Allah produknya mereka bagus-bagus” ucapku pada uyun. Tak lama kemudian uyun bilang “luk aku malu dengan produk kita” bisiknya.

“Sama akupun begitu, meraka kreatif sedangkan kita produk yang terbuat dari singkong aku tidak sanggup dengan ucapan juri. Ini jajan pasaran” sahutku.

“Sudah tidak masalah kita sudah ada di sini mau mundur kita gak bisa, wes kita tabrak aja. Kita kembali pada niat awal kita, disini kita cari pengalaman” ucap uyun

Dengan rasa yang pesimis terus menyelimutiku. A’yun dan uyun rupanya tak tega melihatku. Aku memang kecil hati, se akan-akan aku malu sama mereka.

“Kenapa kita harus masuk ke babak ini” ucap uyun kembali membuatku down

“Entahlah” jawab ku singkat.

“Sudahlah luk, kamu harus tetap optimis” tutur a’yun sambil memegang tangan ku.

Akhirnya aku pengang tangan mereka sebagai simbol aku akan kuat bersama meraka. Saat ini mulailah ada kekuatan yang di berikan mereka padaku. hingga pada akhirnya giliran kita yang mempresentasikan produk kami. Dengan niat mengharap ridhonya. Akhirnya tahap demi tahap kita lalui bersama hingga kita mendapat perhatian dari juri dan para audien.

Hingga tiba saatnya pada pengumuman pemenang, So, kita mendapatkan juara harapan 1 tingkat Madura. Kita pulang dengan penuh cerita, dengan kebahagiaan yang tiada tara. Jadi kita semua tau arti sebuah perjuangan.

Beranda, Cerpen

Papa aku ingin itu!

Perkenalkan nama ku Luluk Illiyah, aku terlahir dari sosok wanita yang begitu banyak perjuangan nya untuk melihatku sukses di dunia. Jemari kecilku ini melayang-layang di atas sebuah kertas tulis kosong sambil menggenggam pensil yang tak terlalu runcing ujungnya. Sesekali aku garukan pensilnya ke ubun-ubun kepalaku. Gelagatku nampak seperti anak dewasa tapi masih belia, bahkan malah seperti orang tua yang memiliki tunggakan cicilan rumah yang tak mampu dibayarnya. Papaku yang kebetulan sedari tadi sedang membuat teh panas memperhatikan anaknya di ruang tengah dari dapur. Tak heran karena anaknya yang biasanya bikin gaduh rumah, kali ini nampak lebih banyak diam. Karena penasaran, kemudian papaku mendekatiku dan bertanya…”Luk, kamu lagi ngerjain apa? Tugas Kuliah? Kok seperti orang bingung begitu?” tanya papa sambil mengaduk-ngaduk teh panasnya.

“Ah, betul ‘Pa, aku bingung mau jawab apa. Pertanyaannya soal cita-cita nanti kalau sudah besar mau jadi apa.” jawab ku sambil menggaruk-garuk kepala.

Sambil menyeruput tehnya, si papa kemudian tersenyum sambil bertanya, “kenapa harus bingung cantik? Coba bayangkan saja kalau kamu sudah besar nanti kira-kira kamu akan menjadi apa?”

Masih dengan kebingungan yang sama aku menjawab pertanyaan papa dengan pertanyaan, “Kalau papa menginginkanku jadi apa? Karena kudengar semua jawaban teman-temanku soal asal-usul cita-cita mereka, kebanyakan berasal dari harapan-harapan orang tua mereka.”

ayahku kemudian menepuk pundak ku sambil berkata “hidup yang sesungguh itu terlalu singkat, nak. Jika harus selalu mengikuti keinginan orang lain, kamu takkan pernah tahu arti dari kebahagiaan yang sesungguhnya. Hidupmu adalah hidupmu, kamu sendiri yang menjalaninya dan kamu sendiri yang menentukannya. Cita-cita itu hanyalah sebagian kecil dari inti kehidupan. Kamu akan tahu sendiri nanti tentang apa itu cita-cita dan bagaimana cara kerjanya menggapai cita-cita. Papa hanya minta satu hal kepadamu.”

“Apa itu, ‘Pa?” tanya ku setengah penasaran.

Sambil mengusap-ngusap rambut anak sulungnya itu, papa menjawab, “Jadi lah selalu orang yang berbuat baik, orang yang rendah hati.”

Kebuntuan yang aku rasakan kini nampak sudah terpecahkan, semua itu berubah menjadi rasa percaya diri. Dengan cepat, akupun langsung menggenggam pensil itu mulai menuliskan sesuatu di kertas kosong itu.

“Jadi, kamu sudah menentukan mau jadi apa nanti, Luk?” tanya papa

Senyuman bangga terurai di wajahku sambil mendekat pada papaku yang sedari tadi ada di sampingku.

“Aku mau jadi seorang penulis saja pa, biar aku di kenang oleh sejarah, dan aku ingin hidupku abadi walau nyatanya sudah mati.” ucapku dengan singkat.