Beranda, Biografi

Tentang Perjuangan

Berjuang adalah cara untuk bertahan hidup bagiku, berjuang adalah cara hidup untuk mewujudkan mimpi-mimpi ku, begitupun berkuliah di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Syaichona Moh. Cholil (STAIS) Bangkalan adalah salah satu cerita panjang perjuanganku. Ya, perjuangan untuk melanjutkan pendidikan menjadi semangat harap untuk membangun bangsa ini nantinya, menjadi semacam stimulus diri untuk selalu merasa ada tanggung jawab yang harus ditunaikan, dan semoga menjadi pelecut semangat kawan-kawan nantinya yang berasal dari sudut-sudut lain di luar sana.

Perjuangan selalu identik dengan pencapaian. Ya, pencapaian-pencapaian disekitar kita tidak lain dan tidak bukan adalah hasil jerih payah perjuangan yang telah kita lalui. Pencapaian ini ibarat sebuah pos pendakian ia selalu menunggu para pendaki untuk mencapainya namun pos pendakian hanyalah sebuah tempat peristirahatan sementara, karena puncak lah yang merupakan tujuan besar kita.

Sebenarnya catatan ini akan dimulai dari perjalanan ku berjuang untuk sebuah organisasi, sebuah wadah berkembang yang tidak pernah menjanjikan kepada anggotanya untuk dapat berkembang kecuali anggotanya sendiri yang aktif untuk mengisi wadah ini dengan segala cerita perjuangan. Ya, sebuah organisasi yang hampir menghabiskan sebagian hidupku di Kampus. Sebuah organisasi berbasis perhimpunan mahasiswa yang akhirnya membuatku benar-benar cinta kepadanya. Organisasi ini bernama HIMAPRODIESY.

Suatu hal yang mungkin belum banyak orang tahu adalah aku masuk ekonomi syariah karena HIMA nya. Hal yang aneh ketika tujuan banyak mahasiswa lain saling bersaing masuk ke jurusan ekonomi syariah supaya mudah mencari lapangan pekerjaan, mungkin sedikit aneh bagi banyak orang tapi satu yang aku pegang. Aku hanya ingin mengatakan ke kalian bahwa kuliah jangan sampai mencetak kita menjadi robot, tapi mendidik kita sebagai manusia. Seorang manusia seutuhnya yang tahu akan jati dirinya dari awal aku tidak pernah mematok aku ingin bekerja di lembaga keuangan mana, sebagai apa, dan dengan gaji berapa nantinya, hal yang kupikir setelah itu hanyalah aku berkuliah dan dapat mengembangkan diriku semaksimal mungkin di setiap ruang-ruang aktualisasi yang ada di kampus ini.

Ketika dinyatakan diterima di Kampus tersebut dan mengikuti rangkaian penerimaan mahasiswa baru, salah satu dari panitia Orientasi Mahasiswa Baru bertanya mengenai alasanku memilih program studi ekonomi syariah maka di sini satu jawabanku aku ingin masuk jurusan yang paling bisa menyebar banyak manfaat dan bisa membangun daerahku dan menyejahterakannya melalui perekonomian yang berbasis islam.
Titik baliknya ketika aku pernah pertama kali diajak mengikuti seminar ekonomi Islam di Unuversitas Trunojoyo Madura. Seketika itu datang membuat batinku terketuk melalui lagu Mars FoSSEI yang diperdengarkan di tengah-tengah peserta seminar dengan gagahnya dan seketika itu membuatku takjub. Pikiranku jauh melayang kelak aku ingin menjadi bagian di dalamnya mencoba berkontribusi, dan dengan hal yang sama hati kecil sempat berfikir andai aku bisa menjadi Ketua panitia atau bagian dari panitia di , tapi segera pikiranku buang jauh-jauh karena toh bisa apa aku, aku pun bukan siapa-siapa di kampus ini. Bahkan punya banyak kenalan saja enggak. Tapi, semenjak kejadian itu aku sudah tidak sabar ingin sekali berkontribusi dalam event yang ada di kampus namun, karena saya yakin hal itu Allah mengabulkan keinginanku, aku belajar dari hal-hal kecil, ikut kajian rutin, ikut agenda seminar di kampus luar dan masih banyak lainnya.

Selama setengah semester awal aku hanya habiskan belajar dan belajar karena takut nantinya nilai ku tidak. Namun, hal ini benar-benar menjadi titik balik ku untuk merubah pola fikirku dalam diri, jujur Aku bukan tipe orang yang hanya bisa disuruh belajar saja, aku bukan tipe akademisi seperti teman-teman kampusku. Kehidupan di SMP dan SMA tidak aku habiskan dengan cara aktif dan berkontribusi di organisasi kesiswaan.

Setelah melewati masa itu aku memasuki masa liburan yang panjang aku menggunakan dengan kegiatan-kegiatan produktif sisanya aku menghabiskan diri di rumah dan di tengah teman-teman ku di kampus sibuk menyiapkan panitia ospek. Di saat itulah aku mulai sadar bahwa aku kecewa dengan hidupku yang mana selama itu aku tidak mencoba merasakan wahana-wahana pengembangan diri di kampus, aku kecewa hanya duduk diam di zona nyaman. Aku sadar, aku selama ini hanya berjalan di tempat di tengah teman-temanku sudah berekreasi mengembangkan diri di kampus dan akhirnya aku sadar bahwa, aku salah karena berpikir semua aspek kehidupan di kampus harus diselesaikan satu persatu hingga akhirnya kesempatan itu terbuang padahal sebenarnya kita bisa memilih untuk menjalankan berbagai aspek secara paralel.

Hal inilah yang mendasari ku untuk membalaskan kesalahan selama setengah semester. Nantinya jika aku di beri kesempatan, aku akan benar-benar menjadi seorang aku yang berbeda dari sebelumnya aku ingin mengeksplorasi diri lebih dan menjadikan sebuah jalan dasar perjuangan ke depan. Hal dasar yang harus kalian tahu jika ingin benar-benar mendapatkan banyak ilmu adalah selalu posisikan diri sebagai gelas kosong mendengarkan setiap pelajaran yang ada. Jangan pernah kau buang, tampung setiap pelajaran lalu gunakan sebaik mungkin jika dirasa ada yang baik maka perlu kita jaga dan jika dirasa ada yang tidak sesuai dengan prinsip kita maka, buanglah jangan sampai kita menjadi teko yang kosong atau teko yang airnya tidak diperbaharui setelah proses ini.

Akhirnya dari rangkaian ini menjadi masa mengikrarkan janji untuk berkontribusi pada organisasi ini. Kelak pada momen ini jangan sampai ikrar yang terucap hanyalah kata-kata yang setengah sadar kita rasakan. Karena kedepannya hanya ada lupa yang kau dapatkan ingat bahwa perjuangan adalah pelaksanaan dari kata-kata. “Kenapa setiap organisasi yang ada sekarang tidak baik-baik saja?” karena banyak orang yang seolah lupa pada ikrarnya. Ini akhirnya setelah proses panjang aku resmi menjadi anggota himpunan ini akupun merasa puas karena pada saat itu aku lalui berhasil membayar semua kesalahanku sebelumnya aku benar-benar mendapatkan banyak pembelajaran selama menjadi gelas kosong saat itu.

Masa awal-awal di himpunan adalah masa di mana kita menjadi sebuah observer disinilah adalah tahap dimana kita memupuk kegelisahan menyalakan api semangat berkontribusi mematri sebuah komitmen dan menjalankannya dengan sepenuh hati ia menjadi anggota baru selalu menjadi hal yang seru di manapun itu. Aku bisa sebebas-bebasnya menjadi seorang pengamat lepas aku bisa menjadi seorang yang selalu ingin bertanya, saat seperti ini adalah saat-saat terpenting kegelisahan terhadap suatu sistem dalam organisasi mampu berusaha memperbaikinya kelak. Pada saat itu ada beberapa hal yang aku rasakan dan kegelisahan ini semakin menjadi selama masuk HIMA banyak hal-hal yang menunggu untuk segera diperbaiki. Ya, inilah masa-masa yang sangat penting dalam tahap eksplorasi diriku selama di sini waktu berkembang.

Beberapa bulan Setelah itu kita dituntut untuk menjadi angkatan pengurus menjadi orang-orang yang akhirnya merealisasikan mimpinya menjadi sebuah aksi nyata menjadi role model yang mengelola himpunan. Ya, menjadi angkatan yang akan menjadi badan pengurus sama saja seperti angkatan yang ideal setiap orang dituntut untuk harus menjadi pribadi yang memiliki pengalaman pemahaman dan dedikasi yang tinggi. Hal ini dilakukan semata-mata untuk membawa himpunan ini tetap menyala dan berkontribusi untuk sekitarnya. Pernah menjadi pengurus HIMA tugas selanjutnya adalah menjadi penjaga nilai, menjadi Kakak yang merangkul dan tak segan menegur jika ada hal yang salah, menjadi orang-orang yang selalu membenarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai HIMA. Ya, selalu ada mengawasi dibalik layar kinerja angkatan pengurus baru, mencoba untuk tetap hadir dan mengalir dalam setiap kegiatan dari angkatan pengurus yang baru supaya dapat menjadi menjaga himpunan yang telah diperjuangkan sebelumnya memang benar salah satu aspek yang dapat membuat himpunan ideal adalah ketika mahasiswa tingkat akhir himpunannya juga bisa ideal.

Ketika aku lulus dari sini ada 2 hal yang mungkin akan aku rasakan. Pertama, akan banyak hal yang aku akan rindukan karena sudah tidak bisa lagi berkontribusi untuk himpunan ini. Kemungkinan kedua, adalah mencoba lagi mengungkit-ungkit kembali sejarah dulu. Ya, agar kelak himpunan ini dapat berkembang dan adaptif terhadap perkembangan zaman anggotanya, ya dua pilihan itu mengerucut kepada dua makna yaitu mencoba kembali atau tidak kembali lagi ke HIMA. Untuk menjaganya kembali berarti harus berusaha untuk tetap update isu terhadap perkembangan himpunan ini dan memberikan kritikan dan masukan dari jauh dan tidak kembali berarti bagaimana membiarkan daun-daun muda HIMA berkarya sebatas kreativitas mereka untuk kontribusi bagi himpunan ini, hal yang ingin aku sampaikan adalah Ingatlah kawan bahwa HIMA tidak akan memberi apa-apa kepada kalian kecuali kalian sendiri yang mencoba mengambilnya, dari sini berkontribusi seikhlas mungkin tanpa mengharapkan apa-apa niscaya kelak kau akan sadar seberapa jauh kau akan berkembang dan sebesar apa manfaat yang kau dapatkan disini.

Perjalanan ini adalah perjalanan yang tidak mudah sehingga membutuhkan dedikasi dan ketulusan yang tinggi, tidak terlalu bisa membuat kalian puas dan bisa memberikan kekecewaan yang mendalam dan mengantarkan seseorang ke percabangan pilihan. Apakah sudah saatnya kita menyerah atau melawan tantangan yang ada dan memperbaiki nya? Ya, seperti kata pepatah mimpi hanya akan menjadi mimpi jika kita tidak bangun dan melaksanakannya. Aku juga salah satu orang yang sangat sering dikecewakan himpunan ini tapi, aku sadar mimpiku terlalu mahal jika aku berhenti ditengah jalan, teruslah berjalan tak peduli selambat apapun kalian. Dari tempat ini aku mendapatkan hal-hal yang menurutku, tak ternilai daripada sekedar jabatan, relasi, atau eksistensi. Yakni sebuah kepedulian loyalitas dan totalitas. Ya, hal-hal itu yang aku sangat syukuri karena hal itu bukanlah hal yang mudah didapatkan dari tempat-tempat lainnya.

Jika ingin berkontribusi jangan pernah berharap ada balasan kembali untuk diri kita sendiri. Tapi, niatkan selalu untuk HIMA yang lebih baik. Di HIMA inilah kita belajar bergerak dan menggerakkan menjadi penggerak dan menjadi agen perubahan dalam rangka transformasi demi menuju suatu harapan yang selalu tidak bosan untuk digaungkan yaitu untuk “HIMA yang lebih baik.”

Terakhir aku selalu merasa bahwa HIMA adalah rumahku. Itu berarti HIMA bukan hanya tempat beraktualisasi, bukan hanya tempat bercengkrama, bukan hanya tempat yang nyaman bersama teman-teman. Tapi, selalu menjadi tempat yang nyaman untuk kembali, kau boleh berkelana sejauh apapun, berkontribusi dan beraktualisasi dimanapun, dan kapanpun. Namun, HIMA selalu memberikan kepastian bahwa selalu ada tempat kamu buat tempat pulang buatmu, ya, sebuah tempat yang menjadi awal cerita kita melejitkan diri di kampus ini ia selalu tetap berada di sana tidak berpindah sedikitpun meskipun semua dari kita telah berpindah. Untuk menggambarkan sebuah cerita ini adalah selamat menikmati indahnya perjuangan.

“Bagiku, menjadi bagian dari pengurus HIMA adalah tentang berjuang hari demi hari, menyuarkan asa, menggampai mimpi, tak kenal berhenti dimanapun dan kapanpun hingga semua amanah ini berakhir. Waktunya telah tiba untuk mengatakan terimakasih kepada semua orang yang terlibat dalam proses yang hebat ini.”