Artikel, Puisi

Memilih Mengikhlaskan

Beberapa tahun yang lalu

Takdir Allah menyapaku dan menyapamu

Sebuah kejadian tak sengaja yang dapat menumbuhkan sebuah rasa

Awalnya hanya saling menunduk kan pandangan ketika sebelum dan sesudah sholat subuh masa itu, namun akhirnya berkembang hingga berubah menjadi kenangan.

Berkembang dari rasa kagum

Berkembang menjadi suka

Berkembang menjadi cinta

Dan akhirnya berkembang menjadi sebuah cerita dengan tidak bahagia

Dimana ini, aku mendapatkan sebuah kabar tentang mu.

Malam ini aku terdiam sendiri, berteman dengan langit kelabu, angin yang menusuk tulangku, dan sunyinya malam yang setia menemaniku.

Kau mengabarkan padaku lewat media sosialmu, bahwa kau telah menemukan tulang rusuk mu.

Padahal andai kau tau, tadi malam aku sempat bermimpi tentangmu, dalam mimpi itu aku memengang tangan mu. Kau tampak bahagia selalu. Dan ternyata kenyataan nya tak seperti mimpi indahku.

Kenyataannya aku melihat mu mengendarai laju mobilmu dengan saling berpegangan erat pada tulang rusukmu.

Runtuh sudah harapanku, harapanku bersanding denganmu, harapanku membangun bahtera cinta bersamamu.

Bismillah ya Rabb saat ini aku memilih untuk mengikhlaskan (Ilvm)