Beranda, Puisi

Ini Tentang Proses

Proses itu panjang
Proses itu tidak ada yang instan
Proses itu penuh perjuangan
Proses itu penuh pertimbangan
Proses itu penuh keikhlasan
Proses itu butuh pemikiran mendalam
Proses itu butuh yang namanya perngorbanan
Proses itu penuh teka-teki
Proses itu penuh misteri
Proses itu semua yang pernah kita lewati bahkan hingga detik ini
dimana detik ini yang selalu ku semogakan dalam doa panjangku pada Rabb ku

Proses, iyaa Proses…

Proses itu tak mengenal waktu
bahkan proses itu tak terbatas waktu
aku akan tetap berproses baik dan membaikkan.

Beranda, Puisi

Ini Tentang Hati

Layaknya sebuah bangunan. Sejak penghuninya pergi, bangunan itu telah ditutup. Pintunya sudah digembok rapat. Dan kunci gemboknya telah dibuang jauh. Bisa saja sampai ke dasar laut, hingga tidak ada seorangpun yang dapat menemukannya kembali. Hingga tak seorangpun bisa memasuki bangunan itu lagi.

Beberapa kali ada seseorang yang mencoba mengetuknya, namun semua sia-sia. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda pintu bangunan itu akan dibuka. Bahkan sempat beberapa kali ada yang mencoba mencongkelnya, namun hal itu tetap sia-sia belaka. Semuanya sama. Tidak ada satupun yang berhasil mencongkelnya. Gembok itu sudah terkunci mati.

Sebenarnya jangan khawatir, ada satu cara untuk memasuki rumah itu. Ada satu kunci cadangan. Dimana kunci yang bisa menembus gembok kuat itu. Kunci yang bisa menembus pintu bangunan itu setelah bertahun-tahun lamanya tidak pernah sekalipun terbuka. Bahkan tak seorangpun yang bisa menerobosnya, dan masuk ke dalam nya.Dan kunci itu ada, ada di dalam nya. Sebenarnya sejak ditinggal oleh penghuni lamanya, rumah itu tidak benar-benar kosong. Rumah itu tidak benar-benar hampa. Ada yang tetap tinggal disana. Dia yang selalu menjaga agar gembok itu tidak melemah. Dia yang selalu menjaga agar gembok itu tidak mudah dipatahkan. Dan bahkan, hanya melalui Dia lah gembok itu dapat terbuka kembali. Karena tak semuanya pergi, seperti kunci.

Gembok itu akan tetap kuat, gembok itu akan tetap terkunci rapat. Hingga ada yang berhasil merayu Dia.

Dia, Sang Penghuni bangunan, untuk mengizinkannya memasuki bangunan itu. Sebagai penghuni baru dan akan menetap selamanya. Bahkan sampai saat bangunan itu tak lagi bisa ditempati dan pengguni keduanya mati yang terbingkai dalam cinta abadi.

Beranda, Puisi

Rindu yang berujung temu

Malam ini aku ingin menyapa mu, boleh kah?
walaupun kau berkata tak boleh aku tetap ingin menyapamu sebentar saja

assalamualaikum kamu yang pernah menjadi bagian dalam hidupku
aku tau kau baik
melihat sosok tegarmu sore tadi itu
Betapa malam pun seakan tahu
lewat caranya mengheningkan semesta
agar sajak-sajakku segera tercipta
akan kerinduan yang kian membara

Maafkan aku, cerita kemarin itu belum ku teruskan karena aku sejak itu merasakan sebuah kehilangan akal
itu bukan maksud hati tapi keadaan yang begitu menyiksa batin ku
aku masih ingin seperti sedia kala
yang sehari-harinya berbagi cerita
dan bercumbu mesra
bahkan masih terasa
kecupan bibir mu di kening yang membuatku semakin tersiksa akan kenangan yang telah sirna

ah, Pada layar yang kau tatap berulang-ulang
Ada kabar yang semakin hilang
Entah berpaling ke lain pelukan
Atau memang sudah tak lagi diharapkan
Sejenak letakkan telingamu di dadaku. dengarkan riuhnya
menerjemahkan rindu padamu.

aku inginkan kamu yang dulu
aku masih ingin menyapamu
walaupun dengan dunia sosial media ku
tolong izinkan aku
sungguh aku merindu