Beranda, Biografi

Garis Waktu

Hal yang paling berharga di dunia ini adalah waktu. Waktu adalah kemewahan yang tidak bisa kau ulur ataupun kau putar ke belakang. Ya, waktu bahasa singkat bergulir seperti mengejar-ngejar mereka yang selalu dihantui rasa haus terhadap suatu hal. waktu tak pernah bisa ditangkap, tak pernah bisa jatuh tersungkur, meskipun telah dikejar dan di perangkap, meskipun telah tua dan renta, waktu adalah sesuatu yang misterius. Kau tidak pernah bisa menebak kapan ia akan menjadikanmu tamu Istimewa.

Agaknya sang waktulah yang paling terasa dalam kehidupan, tak pernah mengeluh, tak pernah juga merasa takut. Sementara kita semakin berlanjut usia, berlanjut pula tulah nya. Padahal waktu yang sama menggerakkan orang-orang untuk mengubah dunia, namun waktu yang sama hanya digunakan orang-orang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan sia-sia.


“When you love what you are doing, you don’t look at the clock”

Kalimat itu agaknya menggambarkan sedikit apa yang aku rasakan selama menjadi bagian dari pengurus Himpunan Mahasiswa Ekonomi Syariah aku bersyukur dan sangat menikmati setiap prosesnya. Maka waktu yang setiap detiknya terlewat menjadi bagian berharga seakan ingin merekam semua peristiwa yang ada agar aku tak lupa terhadap perjalanan yang telah aku pijakkan. Jika ada pertanyaan apa yang aku dapatkan setelah menghabiskan masa bakti di kampus sebagai pengurus himpunan? Aku hanya menjawab sebuah pengalaman berharga yang mungkin tidak semua orang akan mengalaminya. Walaupun terkadang merasakan lelah sendirian, merasa kan sakit sendirian, namun percayalah bahagianya sangat luar biasa dan mungkin tidak bisa dirasakan oleh orang lain yang melihatnya. Seperti kata salah satu seniorku “Karena aku percaya apa yang kita lakukan hari ini, entah berdiskusi, berdebat melakukan aksi, yakinlah cepat atau lambat hal ini akan berguna untuk membangun Indonesia kelak.”

Waktu tak bisa diulang ia cepat berlalu tanpa disadari namun satu hal yang pasti , kita semua memiliki jumlah waktu yang sama entah mau memanfaatkannya semua atau tidak. Jangan menunda, jangan menghabiskan separuh hidupmu yang menunggu waktu yang tepat, untuk menunggu waktu yang tepat seringnya saat kau sadar waktu yang tepat itu sudah lewat. Kalau sudah begitu kau hanya menjadi bisa menyesal, dan aku masih berharap semoga penyesalan itu bisa menjadi pembelajaran untuk tidak mengulanginya.

Siapapun kamu yang sedang membaca ini sekarang, semoga dapat mengambil pembelajaran ini untuk dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Seperti kata senior-seniorku menjadi seorang pengurus himpunan itu “selamat menjalani perjalanan yang panjang namun menyenangkan” Ya, setahun menjadi Ketua departemen adalah cerita perjalanan yang benar-benar luar biasa dan bahagia, cerita perjalanan ketika masih status ketua hingga purnanya aku memegang amanah ini, cerita perjalanan selama setahun memahami, mengamati, dan melaksanakan semua pembelajaran yang ada. Selamat membaca, selamat meresapi arti setiap kata-kata, ya selamat menikmati garis waktu ku.

Beranda, Biografi

Tentang Perjuangan

Berjuang adalah cara untuk bertahan hidup bagiku, berjuang adalah cara hidup untuk mewujudkan mimpi-mimpi ku, begitupun berkuliah di Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Syaichona Moh. Cholil (STAIS) Bangkalan adalah salah satu cerita panjang perjuanganku. Ya, perjuangan untuk melanjutkan pendidikan menjadi semangat harap untuk membangun bangsa ini nantinya, menjadi semacam stimulus diri untuk selalu merasa ada tanggung jawab yang harus ditunaikan, dan semoga menjadi pelecut semangat kawan-kawan nantinya yang berasal dari sudut-sudut lain di luar sana.

Perjuangan selalu identik dengan pencapaian. Ya, pencapaian-pencapaian disekitar kita tidak lain dan tidak bukan adalah hasil jerih payah perjuangan yang telah kita lalui. Pencapaian ini ibarat sebuah pos pendakian ia selalu menunggu para pendaki untuk mencapainya namun pos pendakian hanyalah sebuah tempat peristirahatan sementara, karena puncak lah yang merupakan tujuan besar kita.

Sebenarnya catatan ini akan dimulai dari perjalanan ku berjuang untuk sebuah organisasi, sebuah wadah berkembang yang tidak pernah menjanjikan kepada anggotanya untuk dapat berkembang kecuali anggotanya sendiri yang aktif untuk mengisi wadah ini dengan segala cerita perjuangan. Ya, sebuah organisasi yang hampir menghabiskan sebagian hidupku di Kampus. Sebuah organisasi berbasis perhimpunan mahasiswa yang akhirnya membuatku benar-benar cinta kepadanya. Organisasi ini bernama HIMAPRODIESY.

Suatu hal yang mungkin belum banyak orang tahu adalah aku masuk ekonomi syariah karena HIMA nya. Hal yang aneh ketika tujuan banyak mahasiswa lain saling bersaing masuk ke jurusan ekonomi syariah supaya mudah mencari lapangan pekerjaan, mungkin sedikit aneh bagi banyak orang tapi satu yang aku pegang. Aku hanya ingin mengatakan ke kalian bahwa kuliah jangan sampai mencetak kita menjadi robot, tapi mendidik kita sebagai manusia. Seorang manusia seutuhnya yang tahu akan jati dirinya dari awal aku tidak pernah mematok aku ingin bekerja di lembaga keuangan mana, sebagai apa, dan dengan gaji berapa nantinya, hal yang kupikir setelah itu hanyalah aku berkuliah dan dapat mengembangkan diriku semaksimal mungkin di setiap ruang-ruang aktualisasi yang ada di kampus ini.

Ketika dinyatakan diterima di Kampus tersebut dan mengikuti rangkaian penerimaan mahasiswa baru, salah satu dari panitia Orientasi Mahasiswa Baru bertanya mengenai alasanku memilih program studi ekonomi syariah maka di sini satu jawabanku aku ingin masuk jurusan yang paling bisa menyebar banyak manfaat dan bisa membangun daerahku dan menyejahterakannya melalui perekonomian yang berbasis islam.
Titik baliknya ketika aku pernah pertama kali diajak mengikuti seminar ekonomi Islam di Unuversitas Trunojoyo Madura. Seketika itu datang membuat batinku terketuk melalui lagu Mars FoSSEI yang diperdengarkan di tengah-tengah peserta seminar dengan gagahnya dan seketika itu membuatku takjub. Pikiranku jauh melayang kelak aku ingin menjadi bagian di dalamnya mencoba berkontribusi, dan dengan hal yang sama hati kecil sempat berfikir andai aku bisa menjadi Ketua panitia atau bagian dari panitia di , tapi segera pikiranku buang jauh-jauh karena toh bisa apa aku, aku pun bukan siapa-siapa di kampus ini. Bahkan punya banyak kenalan saja enggak. Tapi, semenjak kejadian itu aku sudah tidak sabar ingin sekali berkontribusi dalam event yang ada di kampus namun, karena saya yakin hal itu Allah mengabulkan keinginanku, aku belajar dari hal-hal kecil, ikut kajian rutin, ikut agenda seminar di kampus luar dan masih banyak lainnya.

Selama setengah semester awal aku hanya habiskan belajar dan belajar karena takut nantinya nilai ku tidak. Namun, hal ini benar-benar menjadi titik balik ku untuk merubah pola fikirku dalam diri, jujur Aku bukan tipe orang yang hanya bisa disuruh belajar saja, aku bukan tipe akademisi seperti teman-teman kampusku. Kehidupan di SMP dan SMA tidak aku habiskan dengan cara aktif dan berkontribusi di organisasi kesiswaan.

Setelah melewati masa itu aku memasuki masa liburan yang panjang aku menggunakan dengan kegiatan-kegiatan produktif sisanya aku menghabiskan diri di rumah dan di tengah teman-teman ku di kampus sibuk menyiapkan panitia ospek. Di saat itulah aku mulai sadar bahwa aku kecewa dengan hidupku yang mana selama itu aku tidak mencoba merasakan wahana-wahana pengembangan diri di kampus, aku kecewa hanya duduk diam di zona nyaman. Aku sadar, aku selama ini hanya berjalan di tempat di tengah teman-temanku sudah berekreasi mengembangkan diri di kampus dan akhirnya aku sadar bahwa, aku salah karena berpikir semua aspek kehidupan di kampus harus diselesaikan satu persatu hingga akhirnya kesempatan itu terbuang padahal sebenarnya kita bisa memilih untuk menjalankan berbagai aspek secara paralel.

Hal inilah yang mendasari ku untuk membalaskan kesalahan selama setengah semester. Nantinya jika aku di beri kesempatan, aku akan benar-benar menjadi seorang aku yang berbeda dari sebelumnya aku ingin mengeksplorasi diri lebih dan menjadikan sebuah jalan dasar perjuangan ke depan. Hal dasar yang harus kalian tahu jika ingin benar-benar mendapatkan banyak ilmu adalah selalu posisikan diri sebagai gelas kosong mendengarkan setiap pelajaran yang ada. Jangan pernah kau buang, tampung setiap pelajaran lalu gunakan sebaik mungkin jika dirasa ada yang baik maka perlu kita jaga dan jika dirasa ada yang tidak sesuai dengan prinsip kita maka, buanglah jangan sampai kita menjadi teko yang kosong atau teko yang airnya tidak diperbaharui setelah proses ini.

Akhirnya dari rangkaian ini menjadi masa mengikrarkan janji untuk berkontribusi pada organisasi ini. Kelak pada momen ini jangan sampai ikrar yang terucap hanyalah kata-kata yang setengah sadar kita rasakan. Karena kedepannya hanya ada lupa yang kau dapatkan ingat bahwa perjuangan adalah pelaksanaan dari kata-kata. “Kenapa setiap organisasi yang ada sekarang tidak baik-baik saja?” karena banyak orang yang seolah lupa pada ikrarnya. Ini akhirnya setelah proses panjang aku resmi menjadi anggota himpunan ini akupun merasa puas karena pada saat itu aku lalui berhasil membayar semua kesalahanku sebelumnya aku benar-benar mendapatkan banyak pembelajaran selama menjadi gelas kosong saat itu.

Masa awal-awal di himpunan adalah masa di mana kita menjadi sebuah observer disinilah adalah tahap dimana kita memupuk kegelisahan menyalakan api semangat berkontribusi mematri sebuah komitmen dan menjalankannya dengan sepenuh hati ia menjadi anggota baru selalu menjadi hal yang seru di manapun itu. Aku bisa sebebas-bebasnya menjadi seorang pengamat lepas aku bisa menjadi seorang yang selalu ingin bertanya, saat seperti ini adalah saat-saat terpenting kegelisahan terhadap suatu sistem dalam organisasi mampu berusaha memperbaikinya kelak. Pada saat itu ada beberapa hal yang aku rasakan dan kegelisahan ini semakin menjadi selama masuk HIMA banyak hal-hal yang menunggu untuk segera diperbaiki. Ya, inilah masa-masa yang sangat penting dalam tahap eksplorasi diriku selama di sini waktu berkembang.

Beberapa bulan Setelah itu kita dituntut untuk menjadi angkatan pengurus menjadi orang-orang yang akhirnya merealisasikan mimpinya menjadi sebuah aksi nyata menjadi role model yang mengelola himpunan. Ya, menjadi angkatan yang akan menjadi badan pengurus sama saja seperti angkatan yang ideal setiap orang dituntut untuk harus menjadi pribadi yang memiliki pengalaman pemahaman dan dedikasi yang tinggi. Hal ini dilakukan semata-mata untuk membawa himpunan ini tetap menyala dan berkontribusi untuk sekitarnya. Pernah menjadi pengurus HIMA tugas selanjutnya adalah menjadi penjaga nilai, menjadi Kakak yang merangkul dan tak segan menegur jika ada hal yang salah, menjadi orang-orang yang selalu membenarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai HIMA. Ya, selalu ada mengawasi dibalik layar kinerja angkatan pengurus baru, mencoba untuk tetap hadir dan mengalir dalam setiap kegiatan dari angkatan pengurus yang baru supaya dapat menjadi menjaga himpunan yang telah diperjuangkan sebelumnya memang benar salah satu aspek yang dapat membuat himpunan ideal adalah ketika mahasiswa tingkat akhir himpunannya juga bisa ideal.

Ketika aku lulus dari sini ada 2 hal yang mungkin akan aku rasakan. Pertama, akan banyak hal yang aku akan rindukan karena sudah tidak bisa lagi berkontribusi untuk himpunan ini. Kemungkinan kedua, adalah mencoba lagi mengungkit-ungkit kembali sejarah dulu. Ya, agar kelak himpunan ini dapat berkembang dan adaptif terhadap perkembangan zaman anggotanya, ya dua pilihan itu mengerucut kepada dua makna yaitu mencoba kembali atau tidak kembali lagi ke HIMA. Untuk menjaganya kembali berarti harus berusaha untuk tetap update isu terhadap perkembangan himpunan ini dan memberikan kritikan dan masukan dari jauh dan tidak kembali berarti bagaimana membiarkan daun-daun muda HIMA berkarya sebatas kreativitas mereka untuk kontribusi bagi himpunan ini, hal yang ingin aku sampaikan adalah Ingatlah kawan bahwa HIMA tidak akan memberi apa-apa kepada kalian kecuali kalian sendiri yang mencoba mengambilnya, dari sini berkontribusi seikhlas mungkin tanpa mengharapkan apa-apa niscaya kelak kau akan sadar seberapa jauh kau akan berkembang dan sebesar apa manfaat yang kau dapatkan disini.

Perjalanan ini adalah perjalanan yang tidak mudah sehingga membutuhkan dedikasi dan ketulusan yang tinggi, tidak terlalu bisa membuat kalian puas dan bisa memberikan kekecewaan yang mendalam dan mengantarkan seseorang ke percabangan pilihan. Apakah sudah saatnya kita menyerah atau melawan tantangan yang ada dan memperbaiki nya? Ya, seperti kata pepatah mimpi hanya akan menjadi mimpi jika kita tidak bangun dan melaksanakannya. Aku juga salah satu orang yang sangat sering dikecewakan himpunan ini tapi, aku sadar mimpiku terlalu mahal jika aku berhenti ditengah jalan, teruslah berjalan tak peduli selambat apapun kalian. Dari tempat ini aku mendapatkan hal-hal yang menurutku, tak ternilai daripada sekedar jabatan, relasi, atau eksistensi. Yakni sebuah kepedulian loyalitas dan totalitas. Ya, hal-hal itu yang aku sangat syukuri karena hal itu bukanlah hal yang mudah didapatkan dari tempat-tempat lainnya.

Jika ingin berkontribusi jangan pernah berharap ada balasan kembali untuk diri kita sendiri. Tapi, niatkan selalu untuk HIMA yang lebih baik. Di HIMA inilah kita belajar bergerak dan menggerakkan menjadi penggerak dan menjadi agen perubahan dalam rangka transformasi demi menuju suatu harapan yang selalu tidak bosan untuk digaungkan yaitu untuk “HIMA yang lebih baik.”

Terakhir aku selalu merasa bahwa HIMA adalah rumahku. Itu berarti HIMA bukan hanya tempat beraktualisasi, bukan hanya tempat bercengkrama, bukan hanya tempat yang nyaman bersama teman-teman. Tapi, selalu menjadi tempat yang nyaman untuk kembali, kau boleh berkelana sejauh apapun, berkontribusi dan beraktualisasi dimanapun, dan kapanpun. Namun, HIMA selalu memberikan kepastian bahwa selalu ada tempat kamu buat tempat pulang buatmu, ya, sebuah tempat yang menjadi awal cerita kita melejitkan diri di kampus ini ia selalu tetap berada di sana tidak berpindah sedikitpun meskipun semua dari kita telah berpindah. Untuk menggambarkan sebuah cerita ini adalah selamat menikmati indahnya perjuangan.

“Bagiku, menjadi bagian dari pengurus HIMA adalah tentang berjuang hari demi hari, menyuarkan asa, menggampai mimpi, tak kenal berhenti dimanapun dan kapanpun hingga semua amanah ini berakhir. Waktunya telah tiba untuk mengatakan terimakasih kepada semua orang yang terlibat dalam proses yang hebat ini.”

Beranda, Puisi

Aku Mengejarmu dan Kamu Menghindariku

Senja kini telah pergi
Bersama waktu yang menepi
Membuat kuternanti
apakah esok dia kembali
Kini sepi datang lagi
Saat semua yang kuhadapi harus sendiri
rindu menyakitiku ketika tamu tak lagi kutemui
Ku bertahan dengan malam
Yang Menyudutkanku pada kelam
Rasanya baru kemarin kau hadir
Dengan semilir angin bersamaku
Namun sekarang hanya kenangan yang bertamu
Yang menyiksaku dengan rindu

Dalam realita, saat ini kita berada dalam posisi dimana. Aku sibuk mengejarmu, sedangkan kamu sibuk menghindariku. Ya, seperti itu.

Beranda, Puisi

Nyaman Bertahan, Sayang Berjuang

aku tahu kehidupanmu bukan aku saja, tapi mengertilah aku cemburu kalau kamu terlalu asik sama yang lain.

karna nyaman aku bisa bertahan, dan karna sayang aku bisa berjuang.

Dalam realita, saat ini kita berada dalam posisi dimana. Aku sibuk mengejarmu, sedangkan kamu sibuk menghindariku. Ya, seperti itu.

kau tak lagi kembali saat ku merindu
kau tak lagi kembali saat Ku bersendu
Dunia terlalu naif untukku hadapi
Persoalan yang tak kunjung selesai harus kusesali
Ketika raga tak lagi mampu melalui kini ku sendiri berteman sepi yang mati
Kau telah pergi tanpa peduli mengharap Ku disini bersama sang waktu kau melupakan kenanganmu senja, lantas bagaimana lagi Aku harus kembali ketika sebab yg telah dia ingkari

Beranda, Cerpen

Emosi Bukanlah Solusi

Malam itu sepasang kekasih kembali bertemu setelah beberapa minggu tak saling bertukar kabar. Bukan dengan alasan yang jelas, hanya saja mereka tidak ingin saling mengerti kondisi satu sama lain.

“Sebulan terakhir kamu kemana aja?”
tanya seorang gadis sambil menatap tajam kekasihnya, Arya.

“Saya sibuk, mey.” jawaban yang sangat singkat dikeluarkan Arya, tanpa menjelaskan alasannya.

“Sibuk atau bosan?” bukannya tidak percaya, Meyli hanya ingin memastikan jawaban kekasihnya.

“Kamu ga percaya sama saya? Saya kira malam ini kita bisa menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, bukan untuk menambah masalah.” jawaban yang sedikit menggores hati Meyli, karena bukan itu maksud dari pertanyaannya.

“Bukan gitu, Arya. Aku juga gamau kita berantem lagi, aku tanya kaya gitu cuman mau mastiin aja.”

“Berarti kamu ga percaya sama saya kan sampai harus mastiin ulang? Udahlah, saya capek mau pulang. Kalau masih ada yang mau diomongin besok aja, kamu pulang terus tidur. Saya duluan.” setelah mengatakan kalimat yang lumayan panjang, Arya langsung bergegas pulang. Bukan tidak peduli, ia hanya tidak ingin memperpanjang masalah.

“Iya, maaf ya.” jawab Meyli singkat, sambil meneteskan air mata yang sudah tidak bisa ditahan.

Tidak ada yang bisa disalahkan, hanya saja sepasang kekasih itu tak bisa mengerti satu sama lain. Pertemuan dengan rasa lelah bercampur emosi, hanya menambah masalah tanpa ada solusi.

Beranda, Puisi

Aku Yang Mempertahankan, Kau Yang Melepaskan

Kau telah menitikan air mata karenanya, tetapi masih peduli padanya.

Kau telah dihiraukan berkali kali, tapi kau masih menunggunya dengan setia.

Dan ketika ia telah jatuh cinta kepada orang lain, tapi kamu masih bisa tersenyum dan bisa bisanya berkata ‘aku turut bahagia kalau kau bahagia’.

Padahal hati telah hancur untuk kesekian kali karenanya
Padahal dalam hati ingin menangis sejadi jadinya
Padahal diri ini tak terima.

Kau terlalu baik hati untuk orang lain sampai sampai kau lupakan sesuatu,
Bahwa dirimu sendiri juga butuh bahagia.

Aku mempertahankan
Dan aku selalu memperjuangkan
Dari apa yang kau lepaskan

Meski sering kau abaikan
Aku mengingat mu
Dan kau melupakan ku

Aku menunggu mu
Dan kau melambaikan tangan
Sebagai tanda perpisahan

Selamat tinggal

Beranda, Puisi

Fluktuasi Hati

Malam semakin pekat
Orang-orang pun kian terlelap
Jiwaku bergejolak namun ku coba mengelak.
Kurasa solusi tidak selamanya bagus
Dan jalan keluar tak selamanya baik
Jarum takdir menusuk rongga bahagia
Suka-ku berbias dilema
Tirakat sudah kulaksanakan
Kian terdengar asma-mu dilantunku
Ya Rabb nikmat mana lagi yang aku dustakan
Dasar aku hanya hamba yang selalu kurang

Beranda, Puisi

Pengemban Amanah Dakwah Berbahagialah

Untukmu para pengemban amanah dakwah…
Jangan berhenti sekarang
Jangan bilang gagal sekarang
Peluang itu masih ada
Menanti kembali di perjuangankan
Untuk mu yang terus istiqamah, yang terus berjuang tanpa lelah
Sertakan Allah di setiap langkah
Yang ada dalam fikiran nya hanya
Bagaimana ia menjadikan semuanya lillah
Karena cintanya padamu, ia percayakan amanah langit di bahumu
Karena sayangnya padamu ia pilihkan jalan ini untukmu
Pernakah selintas kalian bertanya
Mengapa ia memilihmu?
Karena Allah mencintaimu
Karena Allah mempercayai mu
Sebab amanah tak akan salah dalam memilih pundaknya

Ukhti akhi ku…
Allah menguji keikhlasan dalam kesendirian dan keramaian
Allah memberimu kedewasaan ketika masalah berdatangan
Percayalah Allah melatih ketegaran dalam kesakitan
Tetaplah istiqomah
Sertakan Allah disetiap langkah dakwah
ketika dakwahmu tak dihargai, maka pada saat itu engkau sedang belajar tentang sebuah keikhlasan.
Siap memikul amanah adalah hati yang kuat,teguh, dan tulus
Tak berharap apapun tapi sanggup memberi kan segala nya dengan segenap apapun

Ukhti akhi ku…

jangan minta dikurangi bebanmu tapi, Mintalah punggung mu agar kuat membawanya

Ukhti akhi ku..

Berjuanglah untuk kebaikan dan kebenaran Sepahit dan sesulit apapun itu
Bersatulah dalam berjamaah walaupun engkau merasa kecewa
karena berjamaah lebih baik daripada sendirian
Bangkitlah ketika jatuh dan jangan menyerah
Sampaikanlah dakwah setiap saat agar saudaramu merasa memiliki dan dimiliki

Ukhti akhi ku…

memang tak mudah untuk bertahan dan berada di Sebuah Jalan bernama dakwah ini
Maka kalian bahagialah Allah masih memberi kalian kesempatan untuk merasakan indahnya Jalan Dakwah ini

Lelah? Itu pasti

Bangkitmu kita nanti

Bulatkan tekad

Kuatkan azzam diri

Semoga Allah senantiasa meridhoi

Artikel, Beranda

Yakin Nih Kalian Kader Dakwah?

Kader dakwah itu memiliki pemahaman yang utuh. Paham akan falsafah dasar perjuangan, paham akan nilai-nilai yang diperjuangkan, paham akan cita-cita yang hendak dicapai, Dan paham akan jalan yang harus ia lalui.

Yakin nih kalian kader dakwah?

Kader dakwah itu harus memiliki keikhlasan yang begitu tinggi, dalam hal ini ikhlas bekerja hanya untuk ridho Allah. Bukan untuk kesenangan diri sendiri apalagi menyombongkan diri. Karena akan banyak godaan di sepanjang jalan. Bahkan, di tengah perjalanan pun kalian akan di uji. Apalagi ketika ujian mu hampir di garis finis. Begitu banyak rintangan yang harus kalian lalui. Namun, kalian harus nikmati dan jalani dengan setulus hati.

Yakin nih kalian kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki amal yang berkesinambungan. Amal dalam dakwah memiliki tujuan yang pasti memiliki orientasi yang hakiki. Kader dakwah tidak hanya beramal di satu marhalah dan meninggalkan marhalah lainnya. Kader dakwah selalu mengikuti perkembangan mihwar dalam dakwah, karena itu amal yang harus dilalui untuk meretas peradaban.

Yakin nih kalian kader dakwah?

Kader dakwah memiliki etos jihad yang abadi. Jihad dalam bentuk kesungguhan, keseriusan dan kedisiplinan untuk menggapai visi dan misi dakwah yang Hakiki. Kader dakwah harus menjalankan semua agenda dakwah, hingga menghasilkan produktivitas yang paripurna di lahan apapun mereka bekerja. Dan disitulah makna jihad dalam konteks perjalanan aktivitas dakwah.

Yakin nih kalian kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki pengorbanan yang tak terhingga nilainya, dakwah tidak mungkin akan bisa dijalankan tanpa pengorbanan. Sejak dari pengorbanan harta, waktu, tenaga, pikiran, fasilitas. Hingga pengorbanan jiwa, rasa lelah, rasa jenuh, letih selalu mendera. Kesenangan telah dikorbankan demi tetap berjalannya roda dakwah. Dan kadang harus memberikan kontribusi harta pada kondisi diri yang belum mapan dari segi ekonomi pengorbanan tanpa jeda di situlah ciri kader dakwah yang setia.

Yakin nih kalian kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki keteguhan hati tiada henti, kadar dakwah harus selalu tegar di jalan dakwahnya. Teramat banyak aktivis dakwah semasa di mana mereka memiliki semangat yang menyala. Namun, pada suatu ketika padam seiring berjalannya usia. Ada yang tegar dakwah dilakukan di jalanan namun tidak tahan saat berada di pucuk kekuasaan. Kader dakwah harus berada di punculak kemampuan untuk selalu bertahan.

Yakin nih kalian kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki solidaritas persaudaraan dan kebersamaan yang tinggi. Ukhuwah adalah sebuah tuntutan dalam menjalankan agenda-agenda dakwah semakin besar tantangan yang dihadapi dalam perjalanan dakwah, harus semakin kuat pula ikatan ukhuwah di antara pelakunya. Kader dakwah harus saling mendukung, saling menguatkan, saling meringankan beban, saling membantu keperluan. Kader dakwah tidak mengobarkan dendam, iri dan benci karena dakwah selalu membawa cinta dan menyuburkan dakwah dengan sentuhan cinta.

Beranda, Puisi

Saat Di Titik Terendah

Percaya atau tidak

Diyakini atau tidak

Dipungkiri atau tidak

Terserah kalian

Tapi, setiap insan pasti pernah merasakan sedang berada di suatu titik terendah dalam hidupnya

Lesu, murung, melamun, tak berani maju karena khawatir telah mengkelabui percaya diri

Kehilangan motivasi, sedih, merintih,lelah, resah, gelisah, sambat dan pada akhirnya ia terlambat

Ia terlambat untuk menyadari dirinya

Ia lupa bagaimana caranya agar bangkit

Sebelum jatuh sakit

Ia lupa bahwa dirinya sosok yang kuat

Ia lupa bahwa dirinya mempunyai mempunyai banyak tekad

Cobalah berdiri cepat, majulah, melangkahlah, dan larilah sejauh mungkin.

Hadapi jangan terlalu lama untuk diratapi

Pada akhirnya kau akan mengenali dirimu yang memang dilahirkan dan ditakdirkan tuk salah dan menyelesaikan masalah itu sendiri

Yakinlah dan Bismillah…