Beranda, Puisi

Say to No “Bertekuk lutut di hadapan duka”

Aku tau kadang dalam hidup
tidak semua yang kita mau
tidak semua yang kita harapkan
bisa terwujudkan begitu saja

peluh itu pasti ada, kesah itu pasti nyata adanya
bahkan aku yakin dan itu aku alami sendiri
tak jarang pula kita seketika
meneteskan sebuah air mata duka

lantas,

apakah hanya hal sekecil itu
lalu kita bertekuk lutut
di hadapan duka?
Bahkan sekalipun harapan itu tak menjadi nyata

Bukan seperti itu,

sesuatu itu tidak ada yang sia-sia
cobalah kalian sejenak bermuhasabah
satu yang perlu kalian ingat.
Hadapi dan jalani dan jangan lupa intropeksi diri
ikuti arusnya, nikmati prosesnya
Allah tau kapan kau akan memperoleh kebahagiaan dari Nya

Hadapi segala ujian
Dalam kesusahan yakinlah ada kemudahan
Peluk kembali setiap serpihan asa yang barangkali masih menyisakan luka.

Beranda, Puisi

Apa kabar kamu?

Hai kamu…

Apa kabar? Aku harap kamu sehat
dan baik-baik saja
aku mau bilang aku pamit ya
bukan aku tak mau berjuang
bukan aku tak mau bertahan
tapi kamu yang memintaku untuk meninggalkan

maaf bukan karena aku tak lagi mencintaimu
tapi mencintai sepihak bukanlah cinta
yang sewajarnya
ingatkah dulu kita ingin berjalan searah
tapi nyatanya sekarang menjadi sejarah

aku tahu…
aku bukan lah sosok wanita yang kamu prioritaskan
tapi setidaknya jangan lah pergi tanpa
suatu alasan
kamu hebatnya dulu berjuang habis-habisan
tapi saat ini kau menghilang tanpa kabar
aku tidak marah kok
aku hanya kecewa

Beranda, Puisi

Mungkin kaulah tercipta bukan untuk ku

Disaat aku berlari
Kenapa kau malah memilih pergi
Dan disaat aku terdiam
Namun kau justru membungkam

Aku tak tahu
Apa maksudmu
Apakah kau telah muak
Akan cinta yang menurutmu tak lagi bergejolak

Sungguh aku masih sayang
Bahkan wajahmu masih terbayang
Tapi apa boleh buat
Cinta kita tak lagi melekat

Aku sadar
Kau tercipta bukanlah untukku
Tapi ijinkan aku menyimpan rasa ini
Sebagai kenangan atas cinta yang tak pasti
Aku tak mengerti
kenapa semua ini terjadi
Padahal aku dan kau sudah pernah merangkai mimpi

Beranda, Biografi

Assalamualaikum Mas

Assalamualaikum wr.wb

Mas, kamu baik? Sudah hampir satu minggu kau tak menghubungiku. Boleh Kah aku berkata mas? Aku ingin berkata sungguh aku benar-benar rindu kamu mas. Aku selalu ingat janji suci yang kau ucapkan padaku bahwa kau tak akan pergi meninggalkanku.

Sebelum kau tiada kabar kita sempat bersua berdua, saat itu aku menangis di sampingmu lalu tak lama dari itu kau memelukku. Masih tetap ku rasakan pelukan kasih sayang itu mas, aku masih ingin ada di sampingmu.
Mas, malam ini, detik ini, aku tulis surat ini bersamaan dengan turun nya hujan. Mengapa? Karena aku suka hujan. Hujan membawa semua amarahku pada suasana kedamaian dan kesejukan pada jiwaku yang kian memendam sebuah perasaan yang bisa aku katakan.

Selamat malam mas, kamu lagi apa mas malam ini? Oh ia mas pesan ku, jangan selalu tidur larut malam ya. Tetap jaga kesehatan agar aku bisa melihatmu walaupun dari kejauhan.

Kemarin aku tak sengaja melihatmu mas, akan tetapi kita sama-sama menghindar. Dulu kita saling mempertahkan akan tetapi kenapa sekarang kau malah memilih untuk melupakan? Kamu sudah bosan dengan ku ya mas atau aku sudah tidak cantik lagi menurutmu. Hehe katakan mas cantik itu butuh biaya yang mahal
Gini mas, aku ingin bercerita banyak hal yang terjadi saat kau tak menghubungiku lagi.

Salah satunya aku seperti kisah qais dan laila. Aku rasa sudah pantas di juluki ‘Majnun’ oleh orang-orang di luar sana yang sedikit banyak sudah melihat kebenaran menurutku akan tetapi kebodohan menurut orang yang melihatnya.

Pernah aku sampaikan salam rindu pada sang malam yang penuh dengan pekatnya awan. Bahkan saat itu aku merasa bintang yang bersinar paling teranglah yang menjadi saksi aku menyampaikan kerinduanku lewat sang malam.
Saat siang tiba pun tetap dengan ke anehan yang sama. Aku selalu melontarkan syair-syair yang menurutku penuh makna untuk mu. Ku kirimkan lewat debu yang berterbangan di sekelilingku. Aku yakin itu akan tersampaikan padamu.

Bodohnya aku mas, aku sudah buta dan terlena oleh cinta yang fana.

Tak hanya itu, soreku hanya di habiskan tuk melihat keindahan senja, bahakan ku bayangkan saat itu aku bisa menikmati senjaku bersama mu mas. Tapi sekarang aku tau arti senja yang sesungguh nya, dari senja aku faham dengan arti ‘merelakan’ keindahan yang tampak sekilas pandangan saja.

Memandangan wajahmu cerah,

membuatku tersenyum senang

indah dunia.

Tentu saja kita pernah

mengalami perbedaan

kita lalui

Tapi aku merasa jatuh terlalu dalam cintamu

ku tak akan berubah

ku tak ingin kau pergi selamanya

Ku kan setia menjaga mu

Bersama dirimu dirimu

sampai nanti akan slalu bersama dirimu.

Begitu kira nya lirik lagu yang kau sampaikan padaku saat itu, dan sekarang aku merindu.

Kembali pada setiap malamku yang telah aku habiskan untuk membalas pesanmu. Sungguh aku selalu menunggu malam, karena setiap malamku penuh dengan perasaan berbunga-bunga. Walaupun hanya sebatas kata “Sayang I***” sungguh hal itu membuat aku semakin merindu. Kembali ku buka pesan singkat mu via WhatsApp, ku baca setiap kalimat.

Secercah harapan untuk kembali merangkai cerita bersamamu aku harap kamupun begitu.

Kiranya hanya itu surat dari ku, jangan lupa bahagia ya walau kita sekarang sedang diuji untuk berjauhan. Sabar ya mas aku disini masih dengan rasa yang sama dan harapan yang selalu ingin untuk merangkai kembali cerita bersama.

Beranda, Puisi

Sebelum tinggal kenangan

Di hari ini

Di menit ini

Bahkan di detik ini

Aku akan lepaskan dan merelakan

Anganku yang belum tersampaikan

Aku putuskan untuk tidak menyimpan rasa lagi untukmu

Jangan tanya mengapa

Karna aku yakin kau yang lebih mengetahuinya

Sebelumnya aku tak pernah rela

Sebelumnya hal itu tak pernah ada

Tapi apa daya, kau hanya ilusi semata

Yang selalu membuat diri ini nestapa di relung hampa

Izinkan aku bertanya satu hal sebelum aku tinggalkan

Jika kelak kita memang di takdirkan untuk kembali bersama, apa yang ingin kau katakan pada dunia bahkan apa yang ingin kau katakan kepada temannya yang sekarang mereka tak pernah tau posisi kita?

Beranda, Puisi

Penikmat senja

Lagi-lagi aku terbuai oleh senja

Padahal kadang aku tak suka

Sering aku berpaling darinya

Ah, dia hanya melihatkan keindahannya semata

Ironisnya kadang dia tak tampak seperti biasanya

Tapi banyak orang terbuai olehnya

Termasuk aku di dalamnya

Lebih heran lagi, langit itu menerima senja apa adanya

Bahkan dia pergi tanpa pamit terhadap penikmatnya

Menurutku senja itu mengajarkan kita arti sebuah kata ‘rela’

Beranda, Puisi

Malam ku untuk merindu

Dalam dekapan hening malam
yang bermandikan cahaya rembulan
dan seiring belaian angin lembut sepoi-sepoi yang menyelinap bulu roma
menggugah ingatakanku kepadanya
pada sosok wajah yang telah lama
menjadi teman dalam dunia imajinasiku
rupanya aku benar-benar rindu
kerinduan pun sungguh melanda
hingga hati ini tak tertata
selalu ada rindu dalam setiap cinta
bahkan selalu ada cinta dalam setiap rindu

lagi lagi aku menjadi korban rindu
akan kan rinduku menjadi candu
haruskah aku membisu
sementara rindu semakin menggebu
lantas apa yang harus aku lakukan?
apakah aku harus berlalu memburu waktu
yang menyita angan hingga tergores serpihan rindu
sungguh aku tak mampu
bila cintamu berpaling dari hatiku
aku ingin selalu bersama cinta kasihmu
memupuk rindu di setiap ruang kalbu

Beranda, Puisi

Benarkah Sakitku sebabmu?

Kamu egois…
kamu tidak pernah memikirkan perasaanku
kamu acuh terhadapku
andai kau tau
sakitku adalah sebabmu
aku memikirkan hatimu
aku memikirkan perasan mu
sampai aku lupa dengan diriku
aku lupa dengan keadaan ku
aku lupa segalanya tentang hidupku
aku tau siapa dirimu bahkan aku pun juga tau siapa diriku

Aku terbelenggu pada setiap putaran sang waktu
kau biarkan aku terhimpit pada waktu yang tak pernah memihak padaku
kau biarkan aku rindu
akan terus hadirmu
tapi kau tak pernah peduli hal itu
lalu, bagaimana janji mu yang pernah kau ucap dulu itu
di atas ketinggian itu kau berjanji tak akan meninggal kan ku
aku sudah percaya akan hal itu
tapi bodohnya aku
aku semudah nya mempercayaimu
hingga saat ini sakitku ini adalah sebabmu

Beranda, Cerpen

Papa aku ingin itu!

Perkenalkan nama ku Luluk Illiyah, aku terlahir dari sosok wanita yang begitu banyak perjuangan nya untuk melihatku sukses di dunia. Jemari kecilku ini melayang-layang di atas sebuah kertas tulis kosong sambil menggenggam pensil yang tak terlalu runcing ujungnya. Sesekali aku garukan pensilnya ke ubun-ubun kepalaku. Gelagatku nampak seperti anak dewasa tapi masih belia, bahkan malah seperti orang tua yang memiliki tunggakan cicilan rumah yang tak mampu dibayarnya. Papaku yang kebetulan sedari tadi sedang membuat teh panas memperhatikan anaknya di ruang tengah dari dapur. Tak heran karena anaknya yang biasanya bikin gaduh rumah, kali ini nampak lebih banyak diam. Karena penasaran, kemudian papaku mendekatiku dan bertanya…”Luk, kamu lagi ngerjain apa? Tugas Kuliah? Kok seperti orang bingung begitu?” tanya papa sambil mengaduk-ngaduk teh panasnya.

“Ah, betul ‘Pa, aku bingung mau jawab apa. Pertanyaannya soal cita-cita nanti kalau sudah besar mau jadi apa.” jawab ku sambil menggaruk-garuk kepala.

Sambil menyeruput tehnya, si papa kemudian tersenyum sambil bertanya, “kenapa harus bingung cantik? Coba bayangkan saja kalau kamu sudah besar nanti kira-kira kamu akan menjadi apa?”

Masih dengan kebingungan yang sama aku menjawab pertanyaan papa dengan pertanyaan, “Kalau papa menginginkanku jadi apa? Karena kudengar semua jawaban teman-temanku soal asal-usul cita-cita mereka, kebanyakan berasal dari harapan-harapan orang tua mereka.”

ayahku kemudian menepuk pundak ku sambil berkata “hidup yang sesungguh itu terlalu singkat, nak. Jika harus selalu mengikuti keinginan orang lain, kamu takkan pernah tahu arti dari kebahagiaan yang sesungguhnya. Hidupmu adalah hidupmu, kamu sendiri yang menjalaninya dan kamu sendiri yang menentukannya. Cita-cita itu hanyalah sebagian kecil dari inti kehidupan. Kamu akan tahu sendiri nanti tentang apa itu cita-cita dan bagaimana cara kerjanya menggapai cita-cita. Papa hanya minta satu hal kepadamu.”

“Apa itu, ‘Pa?” tanya ku setengah penasaran.

Sambil mengusap-ngusap rambut anak sulungnya itu, papa menjawab, “Jadi lah selalu orang yang berbuat baik, orang yang rendah hati.”

Kebuntuan yang aku rasakan kini nampak sudah terpecahkan, semua itu berubah menjadi rasa percaya diri. Dengan cepat, akupun langsung menggenggam pensil itu mulai menuliskan sesuatu di kertas kosong itu.

“Jadi, kamu sudah menentukan mau jadi apa nanti, Luk?” tanya papa

Senyuman bangga terurai di wajahku sambil mendekat pada papaku yang sedari tadi ada di sampingku.

“Aku mau jadi seorang penulis saja pa, biar aku di kenang oleh sejarah, dan aku ingin hidupku abadi walau nyatanya sudah mati.” ucapku dengan singkat.

Beranda, Puisi

Hujan membuat air mata tak tertahan

Hujan…

mengapa kau datang hari ini
mengapa kau datang saat aku seperti ini
kau seolah-olah mendukung keadaan ku saat ini
sungguh kau kejam padaku
hingga kau tak tau kondisiku
Lkau tak pernah ada d posisiku
sungguh aku membecimu

Aku sudah tak lagi percaya akan pelangimu
yang kau sembunyikan di balik gelapnya awan mu
sungguh aku membeci hal itu
andai kau tau
saat ini hatiku pilu
saat ini jiwa dan raga ku tak lagi bersatu
sebab seseorang yang ku cintai meninggal kan ku

Hidup ini tak adil
menekan batinku bagai kerikil
sejuta angan telah aku rangkai
namun tak satu pun mampu ku urai
aku semakin lemah
hidupku ini tak lagi bergairah
harus kemana lagi aku membawa
rintihan hati yang kian merana