Cerpen

Akhir bulan, akhir hubungan?

Yah, Selamat pagi…

Sebelum aku menyapa mu, menanyakan kabar mu. Ingin ku sampaikan salamku dahulu.

Assalamualaikum Wr. Wb

Yah, bagaimana kabarmu di sana, sehat kan? Jangan lupa makan, jangan lupa istirahat juga. Tetep jaga kesehatan nya.

Cuaca sekarang lagi dingin, jangan terlalu sibuk hingga tak memikirkan kesehatan nya. Kamu baik-baik ya, jangan siksa dirimu sendiri !!!

Yah, pagi hampir siang ini kutulis kisah kita di penghujung juni, bersama hawa dingin yang menyelimuti raga ini. Hingga membawanya entah kemana.

Yah, mungkin hanya dirimu yang tau maksudnya setelah perjumpaan kita di penghujung bulan juni itu. Rasanya aku tak percaya dengan sikap dingin mu pada ku, bahkan biasanya kamu selalu menanyakan keberadaan ku. Masih terekam semua nya ” Sudah sampai?” Tapi kata itu tak ada lepas itu.

Hingga aku menunggu hingga malam itu. Tapi, satu huruf pun tak kau katakan hingga saat ini dan detik ini.

Kala itu angin membawa ku terbang bersamamu menikmati sebuah pertemuan yang di inginkan oleh sepasang insan yang di nobatkan dalam asmara cinta, hingga aku merasakan akulah pemilik cinta itu kala bersamamu. Ku mencoba memeluk mu, rasanya saat itu tak ingin ku lepas satu jari pun dari mu. Aku tau artinya kerinduan, aku pun tau artinya jikalau aku kehilangan. Suasana saat itu yang membedakan dengan pertemuan sebelum-sebelum nya, entah mungkin firasat hati yang sudah mengetahui, aku dan kamu akan seperti ini. Aku sudah pasrah yah, aku ikhlas jikalau kamu benar-benar ingin pergi. Aku persilahkan, tapi aku ingin perkataan itu muncul dari mu. Hingga tak ada beban bagiku terpuruk dalam sikap diam mu. Aku masih ingin mengatakan, “Aku masih rindu yah”

Terus terang yah, aku seperti ada di suatu jurang yang begitu dalam, hanya suara mu, tak usah banyak kata kalau memang iya katakan “sudah” aku faham maksudnya. Dari pada aku terus seperti ini.

Bukan lagi maksud ku tidak mau berjuang, tapi dari sikapmu aku sudah faham. Saat ku lanjutkan tulisan ini, senyum sumringah, canda tawa aah terlalu banyak ku ingat hingga tak sanggup ku ingat lagi, sudah kesekian kali air mata membelah pipi.

Sudah maafkan aku, mungkin aku yang terlalu egois pada perasaan hatiku, sementara kamu tak ingin itu. Percayalah suatu saat aku dan kamu akan mengerti apa yang terjadi.

Beranda, Puisi

Ini Tentang Proses

Proses itu panjang
Proses itu tidak ada yang instan
Proses itu penuh perjuangan
Proses itu penuh pertimbangan
Proses itu penuh keikhlasan
Proses itu butuh pemikiran mendalam
Proses itu butuh yang namanya perngorbanan
Proses itu penuh teka-teki
Proses itu penuh misteri
Proses itu semua yang pernah kita lewati bahkan hingga detik ini
dimana detik ini yang selalu ku semogakan dalam doa panjangku pada Rabb ku

Proses, iyaa Proses…

Proses itu tak mengenal waktu
bahkan proses itu tak terbatas waktu
aku akan tetap berproses baik dan membaikkan.

Beranda, Puisi

Ini Tentang Hati

Layaknya sebuah bangunan. Sejak penghuninya pergi, bangunan itu telah ditutup. Pintunya sudah digembok rapat. Dan kunci gemboknya telah dibuang jauh. Bisa saja sampai ke dasar laut, hingga tidak ada seorangpun yang dapat menemukannya kembali. Hingga tak seorangpun bisa memasuki bangunan itu lagi.

Beberapa kali ada seseorang yang mencoba mengetuknya, namun semua sia-sia. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda pintu bangunan itu akan dibuka. Bahkan sempat beberapa kali ada yang mencoba mencongkelnya, namun hal itu tetap sia-sia belaka. Semuanya sama. Tidak ada satupun yang berhasil mencongkelnya. Gembok itu sudah terkunci mati.

Sebenarnya jangan khawatir, ada satu cara untuk memasuki rumah itu. Ada satu kunci cadangan. Dimana kunci yang bisa menembus gembok kuat itu. Kunci yang bisa menembus pintu bangunan itu setelah bertahun-tahun lamanya tidak pernah sekalipun terbuka. Bahkan tak seorangpun yang bisa menerobosnya, dan masuk ke dalam nya.Dan kunci itu ada, ada di dalam nya. Sebenarnya sejak ditinggal oleh penghuni lamanya, rumah itu tidak benar-benar kosong. Rumah itu tidak benar-benar hampa. Ada yang tetap tinggal disana. Dia yang selalu menjaga agar gembok itu tidak melemah. Dia yang selalu menjaga agar gembok itu tidak mudah dipatahkan. Dan bahkan, hanya melalui Dia lah gembok itu dapat terbuka kembali. Karena tak semuanya pergi, seperti kunci.

Gembok itu akan tetap kuat, gembok itu akan tetap terkunci rapat. Hingga ada yang berhasil merayu Dia.

Dia, Sang Penghuni bangunan, untuk mengizinkannya memasuki bangunan itu. Sebagai penghuni baru dan akan menetap selamanya. Bahkan sampai saat bangunan itu tak lagi bisa ditempati dan pengguni keduanya mati yang terbingkai dalam cinta abadi.

Artikel, Beranda

Man Ana???

Allah memerintahkan kita untuk selalu bertafakur memikirkan tentang alam semesta dalam FirmanNya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan selisih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri ataupun duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi Seraya berkata “Ya Rabb kami, tiadalah engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran 3: 190-191)

Aku pernah mencoba untuk berdiri di tengah hamparan laut yang luas dan di dalamnya Aku merenung.

Aku mencoba melihat pada setiap inci sisi kanan, kiri, depan bahkan belakang semuanya lautan.

Tak kupungkiri lagi aku mencoba melihat keatas yang tampak hanyalah langit yang tak terjangkau besarnya beserta gumpalan awannya, matahari pada waktu siangnya, bulan dan bintang-bintang pada waktu gelap malam nya.

Aku kembali melihat ke bawah yang tampak hanyalah lautan yang kedalamannya bisa diukur dengan manusia, tapi sebaliknya lauyan tak seperti hati manusia yang tak bisa diukur oleh manusianya sendiri.

Subhanallah Maha Suci engkau ya Rabb…

Man Ana?
Apalah artinya aku?
Aku bukan lah siapa-siapa

Alam semesta yang sedemikian besar dan dahsyatnya menjadikan aku merasa benar-benar tidak ada apa-apanya Dan aku bukanlah siapa-siapa. Bahkan aku merasa bukan bagian darinya, aku rasa Aku lah yang merusak semuanya.

Mulai dari ketika aku dilahirkan oleh bundaku, aku tidak memiliki apa-apa bahkan aku tidak memakai sehelai benang yang ada pada tubuh mungilku.
Allah berfirman dalam Alquran : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun dan dia memberi kamu pendengaran penglihatan dan hati agar kamu bersyukur” (Q.S. An – Nahl 16: 78).

Ketika aku mati nanti, aku juga tidak akan membawa apa-apa selain amal perbuatan ku di dunia.

Aku percaya, bahkan sungguh dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau saja. Bahkan bisa kusebut dunia ini adalah panggung sandiwara, dan tidak lebih dari itu.

Mari kita mencoba intropeksi diri. Betapa banyak dari kita menyombongkan ilmu, harta atau apa saja yang kita miliki. Berapa kali kita lalai akan perintahnya, kita lupa akan semua yang harus dilakukan kita sebagai mahluk Nya.

Aku tau hanya kematian lah yang akan menjadikan kita tersadar dan sangat menyesal. Karena sandiwara telah berakhir, akan tetapi kita sadari juga akan penyesalan sudah berakhir dan sudah tidak ada gunanya lagi.
Bahkan kematian adalah awal kehidupan yang sebenarnya dan tidak ada sandiwara lagi setelah itu.

Apakah kalian lupa bukankah Kita terlahir ke dunia ini tak ubahnya bagaikan batu kerikil ditelan lautan?

Bahkan bagaikan terlempar ke ruang semesta yang luasnya tak terjangkau dengan Nalar.

Jangankan diri kita, sedangkan planet Pluto saja bagaikan sebuah kerikil kecil ditengah taburan planet yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan ia pun tak disebut planet.

Lalu Man Ana?

Lalu apa yang kita miliki?

Apa yang patut kita sombongkan?

Ya ilahi, Ya Rabbi, Ya Allah, Duhai penciptaku…
Diriku hanya hamba yang begitu miskin papa dihadapan Kuasamu, dosaku bagai buih di lautan, amal ketaatan ku keramat sangat kecil bagaikan biji selasih, hatiku yang selalu berbolak- balik, perjalananku sangat jauh dari engkau, bekalku untuk menujumu belum aku cukupi, tapi ajalku semakin dekat. Harapanku Engkau Ya Rahman,Ya Rahiim, Ya Ghaffuur, Ya Tawwaab, Ya Ra’uuuf berkenan mengasihi hambamu ini, menyayangi, memaafkan, menerima taubat, dan memberikan kami kasih sayang pada hambamu yang begitu lemah ini.

Ya Allah pengobat jiwa dan hatiku…

aku ingin kelak ketika nyawa hamba dicabut akan dikatakan pada hamba seperti firman mu dalam surat Al Fajr ayat 27-30 “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-nya. Maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hamba-ku. Masuklah ke dalam surga ku”