Beranda, Puisi

Menuju Jannah Bersama Ukhti Fillah

Jadilah wanita yang menginspirasi ,bukan wanita yang suka di puji,dan bukan pula wanita yang sibuk memper Cantik diri.

Cantik-nya Seorang Wanita, dilihat dari sujud-nya kepada Allah SWT, bukan karena mampu melawan lawan jenis dengan menebar pesonanya.

Cantiknya wanita bukan dari keelokan bentuk Tubuh-nya, Tapi karena keteguhannya istiqomah dalam menjaga Aurat-nya.

Cantiknya wanita bukan dari wajah glowingnya, tapi karena ia bisa dan mampu menjaga akhlaqnya serta menundukkan pandangan nya pada yang bukan mahramnya.

Untukmu wanita yang di muliakan Allah, untukmu wanita yang lebih mulia kedudukannya dari laki-laki. Jaga lisanmu, jaga perbuatan mu, dan juga kehormatanmu dari seseorang yang belum halal bagimu.

Mari berjamaah untuk hijrah menuju jannah ya ukhti fillah

Beranda, Puisi

Aku Rela

Maafkan aku telah mengusik ketenanganmu
Maafkan aku yang selalu menuntut mu untuk hidup bersamaku
Aku tau siapa aku dan siapa pula dirimu

jika dia bisa membuatmu bahagia
maka semoga waktu bisa membuatku lupa
lupa…
iyaa lupa, lupa tentang kisah kita berdua

jikalau pun takdirmu adalah dia
maka akupun akan bahagia diatas bahagiamu dan dia.
mungkin kita bisa memaksa mulut untuk berdusta. Tapi tidak dengan hati kita berdua sebab rasa dan cinta.

aku rela kau bersama nya
akupun rela takdirmu berpihak pada dia
dan maaf cinta tak bisa dipaksa
kalaupun terpaksa apakah kamu yakin aku (aku yang kau cinta) akan bahagia?

Beranda, Puisi

Akankah itu dirimu?

Terkadang aku berfikir tentang apa yang jauh ke depan, membayangkan dirimu
ya,itu dirimu yang suatu saat akan duduk di sampingku
terlintas dalam bayangan.
Akankah itu dirimu?
mata itu,
Akankah mata itu yang meneduhkan hatiku?
tangan itu,
tangan yang suatu saat akan menggenggam erat tangan ini. yang sudah tak mampu lagi menguatkan dikala aku sudah tak mampu memikul beban.
Bibir itu,
akan kan bibir itu yang nantinya tak akan lelah menasehatiku?
Mencurahkan segala indah nya bait-bait puisi
Aku tak tau pasti itu.
Aku Tak pernah cemburu bahkan aku pun tak pernah memberi harapan lebih
engkau selalu hadir dalam setiap mimpi ku
engkau selalu ada dalam setiap bait doa ku
semoga semua ini tetap terjaga hingga akan tiba waktunya kita akan bersama

Beranda, Puisi

Nafas Penantian

Seringkali aku berpikir, jauh ke depan
Membayangkan dirimu
Ya, itu dirimu…

ku mencoba berfikir jikalau suatu saat akan duduk di sampingku
Terlintas sesosok bayangan
Akankah itu adalah dirimu? Tangan itu,Apakah tangan itu yang suatu saat akan menggenggam erat tanganku ini? Yang akan senantiasa menguatkan dikala aku mulai lelah memikul beratnya beban hingga aku merasakan sebuah kekuatan yang sesungguhnya

Mata itu, Akankah bola mata itu yang kelak akan meneduhkan hati ku yang sedang gundah gulana
Yang melalui tatapan indahnya ia akan senantiasa menyejukan bahkan menenangkan

Bibir mungil itu, Apakah bibir itu yang nantinya tak akan pernah lelah memotivasi dan menasihatiku? Menuangkan setiap tutur indahnya dalam bait-bait puisi kehidupanku
Yang jelas aku tidak tahu pasti
Aku tak pernah mencemburui,
Pun aku tak pernah memberi harapan berlebih,Yang aku tahu
Engkau selalu hadir dalam mimpi-mimpi indahku,Engkau selalu ada dalam bait-bait do’a ku

Sebab namamu,
Tiap cawanku berisikan aksara yang indah.
Tatkala kuingat senyummu,
Tiap kataku bermakna dan merayu.
Dalam tiap bait itu,
Dirimu menjadi pusat dari keindahan puisiku..

Semoga tetap terjaga, Hingga waktunya tiba..

Beranda, Puisi

Ini Tentang Proses

Proses itu panjang
Proses itu tidak ada yang instan
Proses itu penuh perjuangan
Proses itu penuh pertimbangan
Proses itu penuh keikhlasan
Proses itu butuh pemikiran mendalam
Proses itu butuh yang namanya perngorbanan
Proses itu penuh teka-teki
Proses itu penuh misteri
Proses itu semua yang pernah kita lewati bahkan hingga detik ini
dimana detik ini yang selalu ku semogakan dalam doa panjangku pada Rabb ku

Proses, iyaa Proses…

Proses itu tak mengenal waktu
bahkan proses itu tak terbatas waktu
aku akan tetap berproses baik dan membaikkan.

Beranda, Puisi

Ini Tentang Hati

Layaknya sebuah bangunan. Sejak penghuninya pergi, bangunan itu telah ditutup. Pintunya sudah digembok rapat. Dan kunci gemboknya telah dibuang jauh. Bisa saja sampai ke dasar laut, hingga tidak ada seorangpun yang dapat menemukannya kembali. Hingga tak seorangpun bisa memasuki bangunan itu lagi.

Beberapa kali ada seseorang yang mencoba mengetuknya, namun semua sia-sia. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda pintu bangunan itu akan dibuka. Bahkan sempat beberapa kali ada yang mencoba mencongkelnya, namun hal itu tetap sia-sia belaka. Semuanya sama. Tidak ada satupun yang berhasil mencongkelnya. Gembok itu sudah terkunci mati.

Sebenarnya jangan khawatir, ada satu cara untuk memasuki rumah itu. Ada satu kunci cadangan. Dimana kunci yang bisa menembus gembok kuat itu. Kunci yang bisa menembus pintu bangunan itu setelah bertahun-tahun lamanya tidak pernah sekalipun terbuka. Bahkan tak seorangpun yang bisa menerobosnya, dan masuk ke dalam nya.Dan kunci itu ada, ada di dalam nya. Sebenarnya sejak ditinggal oleh penghuni lamanya, rumah itu tidak benar-benar kosong. Rumah itu tidak benar-benar hampa. Ada yang tetap tinggal disana. Dia yang selalu menjaga agar gembok itu tidak melemah. Dia yang selalu menjaga agar gembok itu tidak mudah dipatahkan. Dan bahkan, hanya melalui Dia lah gembok itu dapat terbuka kembali. Karena tak semuanya pergi, seperti kunci.

Gembok itu akan tetap kuat, gembok itu akan tetap terkunci rapat. Hingga ada yang berhasil merayu Dia.

Dia, Sang Penghuni bangunan, untuk mengizinkannya memasuki bangunan itu. Sebagai penghuni baru dan akan menetap selamanya. Bahkan sampai saat bangunan itu tak lagi bisa ditempati dan pengguni keduanya mati yang terbingkai dalam cinta abadi.

Beranda, Puisi

Peluk aku tuhan

Kuat kan aku tuhan
kuat kan aku…
aku ingin berbicara sedikit dengan mu
aku ingin sekali memeluk mu
aku ingin bercerita segala keluh kesahku
aku gak sanggup tuhan
aku gak sanggup…

Disaat aku seperti ini
tak satupun seseorang yang peduli
tak satupun seseorang yang mengerti
ingin semua ku akhiri

segala rasa sudah ku beri
tapi dia sedikitpun tak pernah peduli
dulu kita bersama saling berbagi rasa
entah semenjak itu semua berbeda
aku tak pernah tau apa sebabnya

Dulu aku sering di manja
hingga aku di buat nyaman olehnya
tapi sekarang aku di hina
di caci maki dengan semua kata

dekap aku tuhan
dekap…
peluk aku tuhan
peluk…
aku rindu semua hal
aku rindu tertawa riang bersamanya
bukan tangis isak yang ku terima
aku rindu pundak yang selalu ada
aku rindu tuhan
aku benar-benar rindu

Beranda, Puisi

Say to No “Bertekuk lutut di hadapan duka”

Aku tau kadang dalam hidup
tidak semua yang kita mau
tidak semua yang kita harapkan
bisa terwujudkan begitu saja

peluh itu pasti ada, kesah itu pasti nyata adanya
bahkan aku yakin dan itu aku alami sendiri
tak jarang pula kita seketika
meneteskan sebuah air mata duka

lantas,

apakah hanya hal sekecil itu
lalu kita bertekuk lutut
di hadapan duka?
Bahkan sekalipun harapan itu tak menjadi nyata

Bukan seperti itu,

sesuatu itu tidak ada yang sia-sia
cobalah kalian sejenak bermuhasabah
satu yang perlu kalian ingat.
Hadapi dan jalani dan jangan lupa intropeksi diri
ikuti arusnya, nikmati prosesnya
Allah tau kapan kau akan memperoleh kebahagiaan dari Nya

Hadapi segala ujian
Dalam kesusahan yakinlah ada kemudahan
Peluk kembali setiap serpihan asa yang barangkali masih menyisakan luka.