Beranda, Puisi

Aku Rela

Maafkan aku telah mengusik ketenanganmu
Maafkan aku yang selalu menuntut mu untuk hidup bersamaku
Aku tau siapa aku dan siapa pula dirimu

jika dia bisa membuatmu bahagia
maka semoga waktu bisa membuatku lupa
lupa…
iyaa lupa, lupa tentang kisah kita berdua

jikalau pun takdirmu adalah dia
maka akupun akan bahagia diatas bahagiamu dan dia.
mungkin kita bisa memaksa mulut untuk berdusta. Tapi tidak dengan hati kita berdua sebab rasa dan cinta.

aku rela kau bersama nya
akupun rela takdirmu berpihak pada dia
dan maaf cinta tak bisa dipaksa
kalaupun terpaksa apakah kamu yakin aku (aku yang kau cinta) akan bahagia?

Cerpen

Akhir bulan, akhir hubungan?

Yah, Selamat pagi…

Sebelum aku menyapa mu, menanyakan kabar mu. Ingin ku sampaikan salamku dahulu.

Assalamualaikum Wr. Wb

Yah, bagaimana kabarmu di sana, sehat kan? Jangan lupa makan, jangan lupa istirahat juga. Tetep jaga kesehatan nya.

Cuaca sekarang lagi dingin, jangan terlalu sibuk hingga tak memikirkan kesehatan nya. Kamu baik-baik ya, jangan siksa dirimu sendiri !!!

Yah, pagi hampir siang ini kutulis kisah kita di penghujung juni, bersama hawa dingin yang menyelimuti raga ini. Hingga membawanya entah kemana.

Yah, mungkin hanya dirimu yang tau maksudnya setelah perjumpaan kita di penghujung bulan juni itu. Rasanya aku tak percaya dengan sikap dingin mu pada ku, bahkan biasanya kamu selalu menanyakan keberadaan ku. Masih terekam semua nya ” Sudah sampai?” Tapi kata itu tak ada lepas itu.

Hingga aku menunggu hingga malam itu. Tapi, satu huruf pun tak kau katakan hingga saat ini dan detik ini.

Kala itu angin membawa ku terbang bersamamu menikmati sebuah pertemuan yang di inginkan oleh sepasang insan yang di nobatkan dalam asmara cinta, hingga aku merasakan akulah pemilik cinta itu kala bersamamu. Ku mencoba memeluk mu, rasanya saat itu tak ingin ku lepas satu jari pun dari mu. Aku tau artinya kerinduan, aku pun tau artinya jikalau aku kehilangan. Suasana saat itu yang membedakan dengan pertemuan sebelum-sebelum nya, entah mungkin firasat hati yang sudah mengetahui, aku dan kamu akan seperti ini. Aku sudah pasrah yah, aku ikhlas jikalau kamu benar-benar ingin pergi. Aku persilahkan, tapi aku ingin perkataan itu muncul dari mu. Hingga tak ada beban bagiku terpuruk dalam sikap diam mu. Aku masih ingin mengatakan, “Aku masih rindu yah”

Terus terang yah, aku seperti ada di suatu jurang yang begitu dalam, hanya suara mu, tak usah banyak kata kalau memang iya katakan “sudah” aku faham maksudnya. Dari pada aku terus seperti ini.

Bukan lagi maksud ku tidak mau berjuang, tapi dari sikapmu aku sudah faham. Saat ku lanjutkan tulisan ini, senyum sumringah, canda tawa aah terlalu banyak ku ingat hingga tak sanggup ku ingat lagi, sudah kesekian kali air mata membelah pipi.

Sudah maafkan aku, mungkin aku yang terlalu egois pada perasaan hatiku, sementara kamu tak ingin itu. Percayalah suatu saat aku dan kamu akan mengerti apa yang terjadi.

Beranda, Puisi

Ini Tentang Hati

Layaknya sebuah bangunan. Sejak penghuninya pergi, bangunan itu telah ditutup. Pintunya sudah digembok rapat. Dan kunci gemboknya telah dibuang jauh. Bisa saja sampai ke dasar laut, hingga tidak ada seorangpun yang dapat menemukannya kembali. Hingga tak seorangpun bisa memasuki bangunan itu lagi.

Beberapa kali ada seseorang yang mencoba mengetuknya, namun semua sia-sia. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda pintu bangunan itu akan dibuka. Bahkan sempat beberapa kali ada yang mencoba mencongkelnya, namun hal itu tetap sia-sia belaka. Semuanya sama. Tidak ada satupun yang berhasil mencongkelnya. Gembok itu sudah terkunci mati.

Sebenarnya jangan khawatir, ada satu cara untuk memasuki rumah itu. Ada satu kunci cadangan. Dimana kunci yang bisa menembus gembok kuat itu. Kunci yang bisa menembus pintu bangunan itu setelah bertahun-tahun lamanya tidak pernah sekalipun terbuka. Bahkan tak seorangpun yang bisa menerobosnya, dan masuk ke dalam nya.Dan kunci itu ada, ada di dalam nya. Sebenarnya sejak ditinggal oleh penghuni lamanya, rumah itu tidak benar-benar kosong. Rumah itu tidak benar-benar hampa. Ada yang tetap tinggal disana. Dia yang selalu menjaga agar gembok itu tidak melemah. Dia yang selalu menjaga agar gembok itu tidak mudah dipatahkan. Dan bahkan, hanya melalui Dia lah gembok itu dapat terbuka kembali. Karena tak semuanya pergi, seperti kunci.

Gembok itu akan tetap kuat, gembok itu akan tetap terkunci rapat. Hingga ada yang berhasil merayu Dia.

Dia, Sang Penghuni bangunan, untuk mengizinkannya memasuki bangunan itu. Sebagai penghuni baru dan akan menetap selamanya. Bahkan sampai saat bangunan itu tak lagi bisa ditempati dan pengguni keduanya mati yang terbingkai dalam cinta abadi.

Beranda, Puisi

Say to No “Bertekuk lutut di hadapan duka”

Aku tau kadang dalam hidup
tidak semua yang kita mau
tidak semua yang kita harapkan
bisa terwujudkan begitu saja

peluh itu pasti ada, kesah itu pasti nyata adanya
bahkan aku yakin dan itu aku alami sendiri
tak jarang pula kita seketika
meneteskan sebuah air mata duka

lantas,

apakah hanya hal sekecil itu
lalu kita bertekuk lutut
di hadapan duka?
Bahkan sekalipun harapan itu tak menjadi nyata

Bukan seperti itu,

sesuatu itu tidak ada yang sia-sia
cobalah kalian sejenak bermuhasabah
satu yang perlu kalian ingat.
Hadapi dan jalani dan jangan lupa intropeksi diri
ikuti arusnya, nikmati prosesnya
Allah tau kapan kau akan memperoleh kebahagiaan dari Nya

Hadapi segala ujian
Dalam kesusahan yakinlah ada kemudahan
Peluk kembali setiap serpihan asa yang barangkali masih menyisakan luka.

Beranda, Puisi

Sebelum tinggal kenangan

Di hari ini

Di menit ini

Bahkan di detik ini

Aku akan lepaskan dan merelakan

Anganku yang belum tersampaikan

Aku putuskan untuk tidak menyimpan rasa lagi untukmu

Jangan tanya mengapa

Karna aku yakin kau yang lebih mengetahuinya

Sebelumnya aku tak pernah rela

Sebelumnya hal itu tak pernah ada

Tapi apa daya, kau hanya ilusi semata

Yang selalu membuat diri ini nestapa di relung hampa

Izinkan aku bertanya satu hal sebelum aku tinggalkan

Jika kelak kita memang di takdirkan untuk kembali bersama, apa yang ingin kau katakan pada dunia bahkan apa yang ingin kau katakan kepada temannya yang sekarang mereka tak pernah tau posisi kita?

Tak Berkategori

Catatan di penghujung Desember

Akhir…

Bagiku semua bukanlah berakhir

Akan tetapi semuanya akan lebih baru

Semuanya akan lebih baik

Aku yakin itu

Selama ini, sejauh ini aku banyak merangkai angan

Entah mengapa semua itu tak bisa ku urai

Mungkin ini salah ku

Mungkin ini nasib ku

Tak sepantasnya aku mengadu pada sang waktu

Aku lupa bahwa waktu akan terus berlaju

Entah akan di bawa kemana jiwa dan ragaku

Sementara itu kadang aku menghiraukan yang terjadi padaku

Banyak harapan di penghujung desemberku

Tapi cukup aku dan tuhanlah yang tau

Beranda, Puisi

Malam ku untuk merindu

Dalam dekapan hening malam
yang bermandikan cahaya rembulan
dan seiring belaian angin lembut sepoi-sepoi yang menyelinap bulu roma
menggugah ingatakanku kepadanya
pada sosok wajah yang telah lama
menjadi teman dalam dunia imajinasiku
rupanya aku benar-benar rindu
kerinduan pun sungguh melanda
hingga hati ini tak tertata
selalu ada rindu dalam setiap cinta
bahkan selalu ada cinta dalam setiap rindu

lagi lagi aku menjadi korban rindu
akan kan rinduku menjadi candu
haruskah aku membisu
sementara rindu semakin menggebu
lantas apa yang harus aku lakukan?
apakah aku harus berlalu memburu waktu
yang menyita angan hingga tergores serpihan rindu
sungguh aku tak mampu
bila cintamu berpaling dari hatiku
aku ingin selalu bersama cinta kasihmu
memupuk rindu di setiap ruang kalbu

Beranda, Puisi

Benarkah Sakitku sebabmu?

Kamu egois…
kamu tidak pernah memikirkan perasaanku
kamu acuh terhadapku
andai kau tau
sakitku adalah sebabmu
aku memikirkan hatimu
aku memikirkan perasan mu
sampai aku lupa dengan diriku
aku lupa dengan keadaan ku
aku lupa segalanya tentang hidupku
aku tau siapa dirimu bahkan aku pun juga tau siapa diriku

Aku terbelenggu pada setiap putaran sang waktu
kau biarkan aku terhimpit pada waktu yang tak pernah memihak padaku
kau biarkan aku rindu
akan terus hadirmu
tapi kau tak pernah peduli hal itu
lalu, bagaimana janji mu yang pernah kau ucap dulu itu
di atas ketinggian itu kau berjanji tak akan meninggal kan ku
aku sudah percaya akan hal itu
tapi bodohnya aku
aku semudah nya mempercayaimu
hingga saat ini sakitku ini adalah sebabmu

Beranda, Cerpen

Papa aku ingin itu!

Perkenalkan nama ku Luluk Illiyah, aku terlahir dari sosok wanita yang begitu banyak perjuangan nya untuk melihatku sukses di dunia. Jemari kecilku ini melayang-layang di atas sebuah kertas tulis kosong sambil menggenggam pensil yang tak terlalu runcing ujungnya. Sesekali aku garukan pensilnya ke ubun-ubun kepalaku. Gelagatku nampak seperti anak dewasa tapi masih belia, bahkan malah seperti orang tua yang memiliki tunggakan cicilan rumah yang tak mampu dibayarnya. Papaku yang kebetulan sedari tadi sedang membuat teh panas memperhatikan anaknya di ruang tengah dari dapur. Tak heran karena anaknya yang biasanya bikin gaduh rumah, kali ini nampak lebih banyak diam. Karena penasaran, kemudian papaku mendekatiku dan bertanya…”Luk, kamu lagi ngerjain apa? Tugas Kuliah? Kok seperti orang bingung begitu?” tanya papa sambil mengaduk-ngaduk teh panasnya.

“Ah, betul ‘Pa, aku bingung mau jawab apa. Pertanyaannya soal cita-cita nanti kalau sudah besar mau jadi apa.” jawab ku sambil menggaruk-garuk kepala.

Sambil menyeruput tehnya, si papa kemudian tersenyum sambil bertanya, “kenapa harus bingung cantik? Coba bayangkan saja kalau kamu sudah besar nanti kira-kira kamu akan menjadi apa?”

Masih dengan kebingungan yang sama aku menjawab pertanyaan papa dengan pertanyaan, “Kalau papa menginginkanku jadi apa? Karena kudengar semua jawaban teman-temanku soal asal-usul cita-cita mereka, kebanyakan berasal dari harapan-harapan orang tua mereka.”

ayahku kemudian menepuk pundak ku sambil berkata “hidup yang sesungguh itu terlalu singkat, nak. Jika harus selalu mengikuti keinginan orang lain, kamu takkan pernah tahu arti dari kebahagiaan yang sesungguhnya. Hidupmu adalah hidupmu, kamu sendiri yang menjalaninya dan kamu sendiri yang menentukannya. Cita-cita itu hanyalah sebagian kecil dari inti kehidupan. Kamu akan tahu sendiri nanti tentang apa itu cita-cita dan bagaimana cara kerjanya menggapai cita-cita. Papa hanya minta satu hal kepadamu.”

“Apa itu, ‘Pa?” tanya ku setengah penasaran.

Sambil mengusap-ngusap rambut anak sulungnya itu, papa menjawab, “Jadi lah selalu orang yang berbuat baik, orang yang rendah hati.”

Kebuntuan yang aku rasakan kini nampak sudah terpecahkan, semua itu berubah menjadi rasa percaya diri. Dengan cepat, akupun langsung menggenggam pensil itu mulai menuliskan sesuatu di kertas kosong itu.

“Jadi, kamu sudah menentukan mau jadi apa nanti, Luk?” tanya papa

Senyuman bangga terurai di wajahku sambil mendekat pada papaku yang sedari tadi ada di sampingku.

“Aku mau jadi seorang penulis saja pa, biar aku di kenang oleh sejarah, dan aku ingin hidupku abadi walau nyatanya sudah mati.” ucapku dengan singkat.

Artikel, Beranda

Miris Sarjana Gak bisa Nulis

Ironis.. sini kak, dik, mungkin kamu belum sadar akan urgen nya sebuah tulisan walaupun hanya sepenggal. Kau boleh bayangkan ketika tulisan mu dibaca seseorang dan itu mereka jadikan sebuah motivasi diri padahal tulisanmu hanya sepenggal tadi, apakah kamu tidak bangga?

Apalagi saat kamu sudah wisuda dimana orang-orang di sekelilingmu melihat kamu mengenakan toga siapa sih yang tidak bangga. Akan tetapi kamu belum sadar kamu wisuda tanpa sebuah karya. Jangan bangga kalau mengerjakan skripsi saja tidak bisa. Kamu hanya copy-paste, atau kamu beli dengan sebuah harga.

Untuk apa kamu kuliah selama 4 tahun itu jika pada akhirnya kau buat hal sedemikian rupa. Sudahlah tidur saja kau dirumah, kau hanya butuh gelar sarjana bukan?

Tibalah saatnya kamu pada fase pengangguran. Kamu boleh sombong selangit, tapi cukup langit-langit kampus saja. Setelah kau lulus, kamu itu siapa?

Kau tak punya karya lalu apakah kau masih mau bangga?

Betul kamu lulus sarjana tapi ragamu seperti telah lulus sementara pikiranmu terpenjara di dalamnya. Karena kau bukan mahasiswa yang sesungguhnya.

Silahkan bantah tulisan ini kak, dik. Tetapi kalian tidak boleh bantah kenyataan. Seperti halnya sebuah ramalan yang tidak mungkin terjadi, kecuali kau telah mengalami.

Ayo kak, dik, sadari budaya literasi. Dari situ kamu akan menjadi orang yang berprestasi, dan mengispirasi baik orang lain maupun diri sendiri.

Saat kamu lulus sarjana kamu tak perlu resah, gelisah, bahkan gundah karena kamu tidak diterima di perusahaan yang kamu ingin kan. Buat apa kamu kuliah bertahun tahun lamanya hanya jadi seorang pekerja. Orang yang bekerja tidak harus lulus sarjana. Kalau kamu tetap begitu, apa bedanya dengan yang tidak punya pendidikan.

Gini kak, dik. saya kasih tau. Jadilah mahasiswa yang sesungguhnya, budayakan literasi, dan bangkitkan semangat motivasi diri. Tidak usah repot-repot setelah mau kerja dimana, mau kerja apa, di perusahaan mana. Kau bisa memperoleh uang dengan cara tidak bekerja yang kau perlukan hanya budaya membaca dan menulis sudah itu saja. Lalu kau implementasikan dengan sebuah karya. Itulah profesi paling mulia, kau hanya bersedia bolpen, buku, diam di rumah mau kerja kapan saja tidak ada orang yang memarahimu. ketika kamu tidak bekerja, kamu tetap punya kesibukan dan penghasilan bukan? Kamu kerja di sebuah perusahaan, gajimu berapa? Jerih payahmu berapa? Keluarga yang kau tinggalkan di rumah bagaimana? kak, dik, kenapa kalian tidak sadar-sadar akan sebuah goresan walaupun secuil ujung pena.

Tulisan itu mahal kak, dik. Seseorang yang luar biasa itu adalah penulis. Ketika menulis, seseorang dituntut untuk berfikir dan dalam berfikir dibutuhkan untuk membaca. Lalu masih kah kalian ragu akan hal itu?

Lihat pula seorang yang sukses dalam menulisnya, seperti Habiburrahman El Shirazy, Asma Nadia, Shibel Erslan dan masih banyak penulis lain yang karya-karya mereka dengan goresan-goresan tangan emas merekalah bisa menggugah hati seorang pembaca.

Saat kamu lulus ada dua pilihan. Kau berhasil mengispirasi dengan sebuah karya, atau kau malah jadi pekerja dengan segala upaya dan usaha tapi gajimu tidak seberapa. Tinggal kalian renungkan hal itu.