Artikel

Pesan Darurat Untuk Mahasiswa Baru, Mahasiswa Lama Dilarang Baca

Assalamualaikum wr.wb

Apa kabar adik Mahasiswa Baru. Kalian tahu tidak, rupanya kini kalian sudah berada di kampus dan menjadi mahasiswa ya, selamat. Kalian bisa tersenyum sumringah sedikit saja, sepersekian persen dari seluruh kebahagiaan yang ingin kalian ceritakan kelak, Ehh btw minta waktunya sedikit dong untuk mencerna lebih baik lagi nasihatku ini dan gratis kok. Hehehe
Sebagai mahasiswa baru, selain kau masih lugu, kau juga terlihat bodoh bukan, jika datang ke kampus dengan membawa banyak mimpi dan harapan. Matamu terpesona dengan bangunan-bangunan dan gedung-gedung yang tidak kau lihat di bubungan rumah mu, nyatanya itu tidak sama sekali bahkan rumah mu jauh lebih indah dan nyaman dari pada gedung lusuh itu.

Tapi gak masalah sih memang, ini adalah babak baru bagimu dan please dengarkan celoteh ku, perkuliahan bukan sebuah tujuan, tapi hanya bagian dari proses. Jangan sampai kau punya keinginan ingin kuliah seumur hidup. Sebutan maha bukan barang mahal, dik.. itu sekedar intrik untuk mengalihkanmu dari dunia yang lebih luas. Nyatanya semua itu tak semahal yang kalian kira.
Silahkan bahkan di perbolehkan, kau bangga sebab untuk masuk universitas itu kata nya sih, Cuma katanya hehe butuh perjuangan dan air mata. Sebuah ratapan yang mendalam jika seandainya gagal menjadi seorang mahasiswa baru. Minimal orang tua bangga kalau kalian sudah kuliah, dan lega. Dari itu ada sebuah harapan yang sengaja diciptakan kodrat untuk memilih jalan hidup.

Okay sudah memasuki hari pertama di kampus, kalian masih belum kenal siapa-siapa. Hanya beberapa yang kau bisa jadikan teman dan kau masih belum tahu siapa dosen yang nanti suka absen, siapa teman yang suka julid dan kelak di semester tuamu, kau akan tahu siapa senior yang masih betah ‘kuliah’.
Ehh iya sudah dengar, hari ini kalian mulai mengikuti OSPEK, dan aku lihat kalian dari jauhan seperti anak kecil lagi hehe. Bagaimana tidak kalian yang sudah ‘Maha’ masih saja Bergoyang-goyang sambil tersenyum, serasa Masa Kecil Kurang Bahagian (MKKB) gitu. Sebab mengikuti arahan dari sosok di depan yang kau panggil kakak itu. Kalian tau tidak, kalian sungguh bodoh! ikut OSPEK bukannya sebagai introduction tapi destruction.
Aku tahu, semua rumus-rumus begini hanya akan kalian pahami setelah kalian kurang lebih satu tahun di kampus atau bisa jadi hanya beberapa bulan saja, Jika kau sepertiku, mengkritik sejak masih Maba kau akan dimintai solusi dan kau akan sadar nanti bahwa kritik itu tak perlu solusi.
Kau hanya perlu sedikit sombong untuk berpikir melebihkan realitas yang kau alami. Perlu sedikit nakal agar kau tidak diperdaya dengan hegemoni-hegemoni. Perlu sedikit lucu agar kau tidak dinilai arogan.
Saat masuk pertama kali ke kampus, jika kau pintar akan bertanya, apa yang senior-seniormu ‘jual’ kepadamu, disitu kau akan melihat berbagai macam rupa pilihan yang bisa kau dapatkan cuma-cuma. Ada yang menjual wajahnya, ada yang menjual kesombongannya, ada yang menjual egonya, ada yang menjual organisasinya dan kalian adalah market potensial.
Kampus adalah rumah baru, bagimu bukan? kau datang terlambat tidak dikenalkan dengan kampus barumu, tapi kau dikenalkan dengan senior barumu, yang nanti mereka akan kau panggil kakak atau mbak bahkan panggilan ‘sayang’ lainnya.
Dik, kampus itu sederhana, kau pilih jadwal mata kuliah, datang, duduk, tidur, pulang dan selebihnya kau bebas melakukan apa saja. Benar-benar seperti taman kanak-kanak yang membosankan. Kuliah itu antara huhu-hara dan ilmiah. Kuliah seperti togel, jika kau tak benar-benar belajar dengan baik.
Kau tanya padaku, maka aku harus jujur apa adanya. Ruang kelas tak jauh berbeda, kau bisa saksikan di sana akan ada para dosen yang malas mengajar, akan ada teman-temanmu yang molor kuliah.
Akan ada juga yang menjadikan kuliah sebagai sarana bercinta, sarana senior untuk berlagak pintar di depanmu, sarana perempuan untuk mulai mengenal kecantikan, sarana dosen untuk genit terhadap mahasiswi dan sarana untuk berkeluh kesah dengan tugas-tugas.
Masih banyak dik, yang ingin aku ceritakan dengan bahasa yang lebih nyinyir lagi, tapi kau masih baru mengenal kehidupan kampus. Saranku asahlah otakmu agar tidak bebal. Semakin bebal kau akan gila, di kampus banyak orang gila.
Kau akan melihat banyak peristiwa akal-akalan. Kuliah bukan tentang belajar, tapi tentang apa yang bisa kau pelajari dari perkuliahan. Kau sedang bermimpi dan akan bangun jika kau lulus nanti.
Kuliahlah, secukupnya, jangan ambisius terhadap nilai atau ambisius menjadi aktivis. Galilah skill dan kemampuanmu bukan menjadikan wajahmu seperti keliping dari koran-koran bekas.
Orang-orang seperti Bill Gates (Microsoft), Evan William (Twitter), Mark Zuckerberg (Facebook), dan lain sebagainya, mereka terpaksa keluar (out) dari kampus.
Pernah kau temukan kata-kata bijak seperti ‘kuliahlah niscaya kau akan sukses’?. Tidak dik, kuliahlah dan kau akan mendapatkan pekerjaan, walau nyatanya lapangan pekerjaan itu sulit.
Kata-kata Bijak Albert Einstein, dan orang-orang asing itu tidak sekalipun berkata kau harus kuliah, apalagi di kampus INI dan ITU. Bahkan Mark Twain mengatakan I never let schooling interfere with my education. Silahkan artikan sendiri dik, kau sudah belasan tahun sekolah. Aku tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan, kata Mark Twain. Artinya Mark menganggap sekolah bukanlah pendidikan.
Kau mengerjakan tugas kuliah memakai Microsoft-nya Bill Gates yang malas kuliah, memakai WhatsApp-nya Jan Koum, Mungkin jika Bill Gates tidak berhenti kuliah kau masih menulis dengan kertas, tidak bisa main game dan sebagainya.
Kuliah tetap penting dik, aku tak menyarankan kau mengikuti jejak orang-orang di atas. Tapi kau harus sadar bahwa suksesnya kuliah itu hanya ditetukan oleh dirimu sendiri. Orang-orang diatas yang ku sebut tadi, pikirannya sudah melampaui kampus itu sendiri. Kampus terlalu kecil untuk memelihara pikirannya. Apalagi hanya soal politik kampus, perhelatan pilpresma, pilgubma, soal remeh temeh yang tak bisa kau banggakan setelah lulus.
Jujur aku sudah mengalami itu semua dik. Kau tahu, itu sangat menggelisahkanku saat mulai menyadarinya di akhir-akhir menjelang lulus. Siapa kau saat kuliah, berapa angka prestasimu, tugas apa saja yang kau selesaikan, jurusan yang kau ambil, berapa mantanmu, berapa tahu kau lulus.
Jika kau bukan anak konglomerat atau ningrat, dan tak sejenius Bill Gates lanjutkan kuliahmu, dik. Apa yang kau cari sebenarnya sudah ada di Wikipedia, dik. Kau hanya perlu ijazah. Boleh ku tertawa?
Selesaikan segera dramamu, terlalu lama membuat penonton muak!

Beranda, Puisi

Tetaplah tinggal dalam ingatan

Sepasang mata tertuju pada chatmu
yang sudah lama ku letakkan jemari lentik di ponsel itu
sejenak kembali ku ingat pesanmu
“aku sudah tak mencintamu”
resah, sungguh ku terpukul pilu
tapi tak setitik pun kau tau itu
bahkan ku tak menyangka terhadap ucapan bejat mu

mudahnya kau menoreh luka
pada hati yang sudah tersika
sekian lama aku mendamba
hidup susah kita akan bersama
cukup…
cukup aku tau kau begitu pandai berkata dusta
dulu kau berkata bahwa aku wanita yang selalu kau sebut dalam doa
nyata nya kau lelaki bermulut dua

ku tak berharap sebuah perhatian
cukup satu dari sekian harapan
tetaplah tinggal dalam rumah ingatan
walaupun engkau berhati setan

Beranda, Puisi

Lelaki dua puluh empat karat atau lelaki bejat?

Aku putuskan tuk berhenti mencintaimu

Bagaimana tidak?

Sedangkan aku mencintaimu dengan segala hal tak pernah melihat latar belakang mu sedangkan kau hanya ingin menikmati segalanya dari ku
bukan seogok perhatian yang kuinginkan
bukan seogok kasih sayang yang ku dambakan
bukan pula seogok kata cinta yang ku harapkan
tapi aku hanya ingin kau mengingat akan sebuah cerita perjuangan dalam mempertahan kan hubungan
cinta mu candu
sedangkan rinduku bisu
kasih sayang ku tak pernah ragu
hanya dirimu yang tak tau malu
jika hatimu tau
semua itu tak akan sekeras batu
kau lelaki bejat
mana harga dirimu
katanya saja bak emas dua puluh empat
karat
nyatanya kau lelaki buaya darat

Beranda, Puisi

Aku Rela

Maafkan aku telah mengusik ketenanganmu
Maafkan aku yang selalu menuntut mu untuk hidup bersamaku
Aku tau siapa aku dan siapa pula dirimu

jika dia bisa membuatmu bahagia
maka semoga waktu bisa membuatku lupa
lupa…
iyaa lupa, lupa tentang kisah kita berdua

jikalau pun takdirmu adalah dia
maka akupun akan bahagia diatas bahagiamu dan dia.
mungkin kita bisa memaksa mulut untuk berdusta. Tapi tidak dengan hati kita berdua sebab rasa dan cinta.

aku rela kau bersama nya
akupun rela takdirmu berpihak pada dia
dan maaf cinta tak bisa dipaksa
kalaupun terpaksa apakah kamu yakin aku (aku yang kau cinta) akan bahagia?

Beranda, Puisi

Akankah itu dirimu?

Terkadang aku berfikir tentang apa yang jauh ke depan, membayangkan dirimu
ya,itu dirimu yang suatu saat akan duduk di sampingku
terlintas dalam bayangan.
Akankah itu dirimu?
mata itu,
Akankah mata itu yang meneduhkan hatiku?
tangan itu,
tangan yang suatu saat akan menggenggam erat tangan ini. yang sudah tak mampu lagi menguatkan dikala aku sudah tak mampu memikul beban.
Bibir itu,
akan kan bibir itu yang nantinya tak akan lelah menasehatiku?
Mencurahkan segala indah nya bait-bait puisi
Aku tak tau pasti itu.
Aku Tak pernah cemburu bahkan aku pun tak pernah memberi harapan lebih
engkau selalu hadir dalam setiap mimpi ku
engkau selalu ada dalam setiap bait doa ku
semoga semua ini tetap terjaga hingga akan tiba waktunya kita akan bersama