Malam itu sepasang kekasih kembali bertemu setelah beberapa minggu tak saling bertukar kabar. Bukan dengan alasan yang jelas, hanya saja mereka tidak ingin saling mengerti kondisi satu sama lain.
“Sebulan terakhir kamu kemana aja?”
tanya seorang gadis sambil menatap tajam kekasihnya, Arya.
“Saya sibuk, mey.” jawaban yang sangat singkat dikeluarkan Arya, tanpa menjelaskan alasannya.
“Sibuk atau bosan?” bukannya tidak percaya, Meyli hanya ingin memastikan jawaban kekasihnya.
“Kamu ga percaya sama saya? Saya kira malam ini kita bisa menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, bukan untuk menambah masalah.” jawaban yang sedikit menggores hati Meyli, karena bukan itu maksud dari pertanyaannya.
“Bukan gitu, Arya. Aku juga gamau kita berantem lagi, aku tanya kaya gitu cuman mau mastiin aja.”
“Berarti kamu ga percaya sama saya kan sampai harus mastiin ulang? Udahlah, saya capek mau pulang. Kalau masih ada yang mau diomongin besok aja, kamu pulang terus tidur. Saya duluan.” setelah mengatakan kalimat yang lumayan panjang, Arya langsung bergegas pulang. Bukan tidak peduli, ia hanya tidak ingin memperpanjang masalah.
“Iya, maaf ya.” jawab Meyli singkat, sambil meneteskan air mata yang sudah tidak bisa ditahan.
Tidak ada yang bisa disalahkan, hanya saja sepasang kekasih itu tak bisa mengerti satu sama lain. Pertemuan dengan rasa lelah bercampur emosi, hanya menambah masalah tanpa ada solusi.



