
Alkisah seorang penyelam diupah untuk mengambil mutiara yang ada di dalam laut. Ia berbekal peralatan lengkap terutama oksigen, dalam jumlah tertentu atau untuk jangka waktu tertentu. Ketika menyelam ia mendapati pemandangan yang indah di dalam laut yang tertumpuk beberapa Karang sehingga ia terpesona dan terlena atas apa yang ia lihat berupa keindahan dasar laut.
Ia bercengkrama bersama ikan-ikan hias yang yang mempesona batu karang yang hampir mirip dengan mutiara, rumput laut yang ia akan sebut bunga laut dengan pesona keindahannya. Dia tak akan pernah memikirkan Bagaimana dengan nasib oksigen tersebut, ia lalai akan hal itu , ketika oksigen dalam tabungnya hampir habis. Ia baru tersadar akan tugasnya, maka dari itu ia hanya tergesa-gesa untuk mencari mutiara itu, namun semuanya terlambat karena oksigen tersebut tidak mencukupi sehingga, Ia memutuskan untuk kembali ke permukaan tanpa membawa apapun atau satu mutiara pun.
Maka dari itu akibatnya, ia harus mempertanggungjawabkan tugasnya dan ia sangat menyesal. Bahkan ia termasuk orang yang gagal dan tidak bertanggung jawab atas apa yang perintahkan nya.
Sampai disini mungkin kalian sudah paham apa yang penulis maksud dalam hal itu, menurut penulis itulah kurang lebih dari gambaran kehidupan kita di dunia.
Kita sebagai khalifah di bumi, semua Allah sudah memfasilitasi kita apa yang dibutuhkan kita Allah berikan tapi ingat ‘oksigen’ kita ada batasnya. Coba Ingat sejenak kembali kisah di atas, Ia hanya terlena oleh gemerlapnya keindahan kehidupan dunia yang fana sehingga membuat kita lalai mencari ‘mutiara’.
Tapi, kalau dilihat penyelam tadi itu tahu jatah oksigennya berapa. sedangkan kita tidak tahu kapan oksigen kita akan habis isinya, dari situlah kita tidak pernah tahu kapan ajal akan datang menjemput kita. Apakah saat terlena oleh dunia atau bagaimana? Ahh, semua tidak ada yang tau itu.
Sungguh beruntunglah jika dari kita mampu mengumpulkan mutiara sebelum jatah oksigen itu habis. Tapi alangkah sangat malang nya bila jika jatah oksigen telah habis akan tetapi kita masih terlena oleh keindahan dunia yang fana ini, sehingga tak satu mutiara pun yang berhasil kami ambil.
“Dengan menyebut namamu ya Allah izinkan kami untuk berdoa sejenak padamu.
Ya Rabbi…
Ya Ilahi…
Jadikanlah kami faham akan hakikat kehidupan dunia ini, agar kami tetap selamat dari fitnah di dalamnya dan kami mohon beri kami waktu untuk bisa mengumpulkan mutiara sebanyak-banyaknya untuk kami bawa kepada hadapanmu, sebelum ajal itu datang menjemput kita ya robb”
Ya Ukhti wa akhi Fillah hidup itu ibarat penyelam pencari mutiara jika kita terlena akan keindahan maka ambil lah resiko terbesar kau tak akan mendapatkan satupun mutiara
(Terinspirasi penulis Abdullah Hadrami)