Artikel, Puisi

Memilih Mengikhlaskan

Beberapa tahun yang lalu

Takdir Allah menyapaku dan menyapamu

Sebuah kejadian tak sengaja yang dapat menumbuhkan sebuah rasa

Awalnya hanya saling menunduk kan pandangan ketika sebelum dan sesudah sholat subuh masa itu, namun akhirnya berkembang hingga berubah menjadi kenangan.

Berkembang dari rasa kagum

Berkembang menjadi suka

Berkembang menjadi cinta

Dan akhirnya berkembang menjadi sebuah cerita dengan tidak bahagia

Dimana ini, aku mendapatkan sebuah kabar tentang mu.

Malam ini aku terdiam sendiri, berteman dengan langit kelabu, angin yang menusuk tulangku, dan sunyinya malam yang setia menemaniku.

Kau mengabarkan padaku lewat media sosialmu, bahwa kau telah menemukan tulang rusuk mu.

Padahal andai kau tau, tadi malam aku sempat bermimpi tentangmu, dalam mimpi itu aku memengang tangan mu. Kau tampak bahagia selalu. Dan ternyata kenyataan nya tak seperti mimpi indahku.

Kenyataannya aku melihat mu mengendarai laju mobilmu dengan saling berpegangan erat pada tulang rusukmu.

Runtuh sudah harapanku, harapanku bersanding denganmu, harapanku membangun bahtera cinta bersamamu.

Bismillah ya Rabb saat ini aku memilih untuk mengikhlaskan (Ilvm)

Tak Berkategori

Antum gak sendiri

Tak banyak dari kita yang punya banyak masalah, bahkan yang pribadi justru lebih membunuh hati nurani.

Kalau persepsiku..

Manusia bukan hanya segumpal darah

Manusia bukan hanya mahluk yang bertopeng ramah

Dipundaknya, tegak, kokoh dan berdiri sebuah amanah

Dikepalanya, ratusan impian dan harapan tumbuh merkah

Ditangannya, kepalan kuat dan kokoh siap menembuh berjuta masalah

Dikakinya, proyeksi tekad yang kuat ribuan mil selalu melangkah

Dan dihatinya, sebuah harapan tumbuh kasih sayang bersimpah ruah

Percayalah tiap-tiap mereka unik

Percayalah tiap-tiap mereka punya arti tersendiri buat menjalani kehidupan dunia ini

Dengan segala kesulitan yang telah ia lewati bersama mimpi-mimpi

Bahkan dengan segala suka duka yang telah ia lalui sendiri

Dan banyak juga batas-batas kesabaran yang telah ia lalui

Buat yang lagi bersedih, yang lagi berduka, yang lagi ngeras sendiri dan gak ada yang peduli, yang lagi bipolar disolder, yang masalahnya besar se besar gaban

Semangat ya Antum kuat kok, dan antum gak sendiri, sini ada ana yang siap mendampingi.

Beranda, Puisi

Sempat Patah

Teruntuk jiwa yang masih saja patah Padahal hari ini kebahagiaan harusnya merekah
Aku sarankan agar kau membuang delusi mu yang payah
Kembalikan dia ke Antah berantah
Bila masih tidak bisa setidaknya, untuk hari ini berbahagia lah

Dan bangkitlah
Sebab, hidup mu tak harus melulu tentang perasaan gundah
Mau sampai kapan kau terus-terusan menjadi sosok manusia yang fikirannya buncah
Mari sekali lagi berbenah
kau masih pantas bahagia

Beranda, Puisi

IILAA MATAA

Aku pernah bersekutu dengan rindu.
Dan aku katakan jika ada pesan cinta darimu jangan di sampaikan, sebab figurmu akan selalu ada ingatan dan aku tak butuh itu.
saat ini yang aku butuhkan adalah saling bertemu.

Pernah kubertanya,
Apa itu bahagia?
Bagaimana wujudnya?
Dan hari ini aku tahu jawabnya.
Iya, setelah mengenalmu.

Tapi tak jauh dari itu
selepas kepergian mu
aku tak tahu
untuk bertahan berapa lama
perihal rasa dan kerinduan
sampai kapan?
iya sampai kapan aku menahan itu
sampai kapan?
kita aku bertemu
sampai kapan?
kita terus saling merindu
akan kehadiran dan kepulanganmu

Meski dirimu berselimut kabut tebal, aku tetap bisa merasakan hadirmu.
Kau tahu kenapa?
Sebab, hanya derap langkahmu yang mampu mendebarkan jantungku.

Beranda, Puisi

Tetaplah tinggal dalam ingatan

Sepasang mata tertuju pada chatmu
yang sudah lama ku letakkan jemari lentik di ponsel itu
sejenak kembali ku ingat pesanmu
“aku sudah tak mencintamu”
resah, sungguh ku terpukul pilu
tapi tak setitik pun kau tau itu
bahkan ku tak menyangka terhadap ucapan bejat mu

mudahnya kau menoreh luka
pada hati yang sudah tersika
sekian lama aku mendamba
hidup susah kita akan bersama
cukup…
cukup aku tau kau begitu pandai berkata dusta
dulu kau berkata bahwa aku wanita yang selalu kau sebut dalam doa
nyata nya kau lelaki bermulut dua

ku tak berharap sebuah perhatian
cukup satu dari sekian harapan
tetaplah tinggal dalam rumah ingatan
walaupun engkau berhati setan

Beranda, Puisi

Akankah itu dirimu?

Terkadang aku berfikir tentang apa yang jauh ke depan, membayangkan dirimu
ya,itu dirimu yang suatu saat akan duduk di sampingku
terlintas dalam bayangan.
Akankah itu dirimu?
mata itu,
Akankah mata itu yang meneduhkan hatiku?
tangan itu,
tangan yang suatu saat akan menggenggam erat tangan ini. yang sudah tak mampu lagi menguatkan dikala aku sudah tak mampu memikul beban.
Bibir itu,
akan kan bibir itu yang nantinya tak akan lelah menasehatiku?
Mencurahkan segala indah nya bait-bait puisi
Aku tak tau pasti itu.
Aku Tak pernah cemburu bahkan aku pun tak pernah memberi harapan lebih
engkau selalu hadir dalam setiap mimpi ku
engkau selalu ada dalam setiap bait doa ku
semoga semua ini tetap terjaga hingga akan tiba waktunya kita akan bersama

Beranda, Puisi

Masih Tentang Air Mata perpisahan

Sederas apapun hujan yang membasahi pelupuk mataku
Genangannya hanya mampu menjelma kenangan
Tak dapat membawamu kembali padaku

sore itu masih ku ingat betul
perjalanan kita
sebab jiwa raga kita bisa berjumpa
sebab cinta kerinduan yang selalu menjelma
saat itukita telah mengukir kisah cinta kita bersama
bersama jutaan harapan yang kini sirna

Dan pada senja yang meluruhkan saga
Aku masih berucap
Aku merindui mu
Detak kenanganku masih namamu
Hingga masih terasa kecupan di keningku
masih ku ingat selalu

Namun sekarang yang tersisa hanyalah cerita
hanyalah sejuta harapan yang terbingkai dalam asa
Setangkai kepedihan kini tergeletak
Perihnya menggenggam jemari hati
Tak berdarah
Namun sungguh luka

kau tau saat itu
aku menjadi seorang laila tapi yang gila karena kita tak bisa bersama
setiap ku membuka mata
ah, lagi, lagi dan lagi kamu
iya, kamu yang selalu ada di pandangan mata

Hingga aku merasa lelah menatap malam
Tabur bintang
Bulan tak penuh
Tanpa kabarmu hanyalah lukisan cakrawala tak bernyawa
tapi aku hanya bisa berdoa semoga kau selalu baik-baik saja
aku yakin kita berpisah untuk berjumpa

Beranda, Puisi

Nafas Penantian

Seringkali aku berpikir, jauh ke depan
Membayangkan dirimu
Ya, itu dirimu…

ku mencoba berfikir jikalau suatu saat akan duduk di sampingku
Terlintas sesosok bayangan
Akankah itu adalah dirimu? Tangan itu,Apakah tangan itu yang suatu saat akan menggenggam erat tanganku ini? Yang akan senantiasa menguatkan dikala aku mulai lelah memikul beratnya beban hingga aku merasakan sebuah kekuatan yang sesungguhnya

Mata itu, Akankah bola mata itu yang kelak akan meneduhkan hati ku yang sedang gundah gulana
Yang melalui tatapan indahnya ia akan senantiasa menyejukan bahkan menenangkan

Bibir mungil itu, Apakah bibir itu yang nantinya tak akan pernah lelah memotivasi dan menasihatiku? Menuangkan setiap tutur indahnya dalam bait-bait puisi kehidupanku
Yang jelas aku tidak tahu pasti
Aku tak pernah mencemburui,
Pun aku tak pernah memberi harapan berlebih,Yang aku tahu
Engkau selalu hadir dalam mimpi-mimpi indahku,Engkau selalu ada dalam bait-bait do’a ku

Sebab namamu,
Tiap cawanku berisikan aksara yang indah.
Tatkala kuingat senyummu,
Tiap kataku bermakna dan merayu.
Dalam tiap bait itu,
Dirimu menjadi pusat dari keindahan puisiku..

Semoga tetap terjaga, Hingga waktunya tiba..

Beranda, Puisi

Ini Tentang Hati

Layaknya sebuah bangunan. Sejak penghuninya pergi, bangunan itu telah ditutup. Pintunya sudah digembok rapat. Dan kunci gemboknya telah dibuang jauh. Bisa saja sampai ke dasar laut, hingga tidak ada seorangpun yang dapat menemukannya kembali. Hingga tak seorangpun bisa memasuki bangunan itu lagi.

Beberapa kali ada seseorang yang mencoba mengetuknya, namun semua sia-sia. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda pintu bangunan itu akan dibuka. Bahkan sempat beberapa kali ada yang mencoba mencongkelnya, namun hal itu tetap sia-sia belaka. Semuanya sama. Tidak ada satupun yang berhasil mencongkelnya. Gembok itu sudah terkunci mati.

Sebenarnya jangan khawatir, ada satu cara untuk memasuki rumah itu. Ada satu kunci cadangan. Dimana kunci yang bisa menembus gembok kuat itu. Kunci yang bisa menembus pintu bangunan itu setelah bertahun-tahun lamanya tidak pernah sekalipun terbuka. Bahkan tak seorangpun yang bisa menerobosnya, dan masuk ke dalam nya.Dan kunci itu ada, ada di dalam nya. Sebenarnya sejak ditinggal oleh penghuni lamanya, rumah itu tidak benar-benar kosong. Rumah itu tidak benar-benar hampa. Ada yang tetap tinggal disana. Dia yang selalu menjaga agar gembok itu tidak melemah. Dia yang selalu menjaga agar gembok itu tidak mudah dipatahkan. Dan bahkan, hanya melalui Dia lah gembok itu dapat terbuka kembali. Karena tak semuanya pergi, seperti kunci.

Gembok itu akan tetap kuat, gembok itu akan tetap terkunci rapat. Hingga ada yang berhasil merayu Dia.

Dia, Sang Penghuni bangunan, untuk mengizinkannya memasuki bangunan itu. Sebagai penghuni baru dan akan menetap selamanya. Bahkan sampai saat bangunan itu tak lagi bisa ditempati dan pengguni keduanya mati yang terbingkai dalam cinta abadi.

Beranda, Puisi

Say to No “Bertekuk lutut di hadapan duka”

Aku tau kadang dalam hidup
tidak semua yang kita mau
tidak semua yang kita harapkan
bisa terwujudkan begitu saja

peluh itu pasti ada, kesah itu pasti nyata adanya
bahkan aku yakin dan itu aku alami sendiri
tak jarang pula kita seketika
meneteskan sebuah air mata duka

lantas,

apakah hanya hal sekecil itu
lalu kita bertekuk lutut
di hadapan duka?
Bahkan sekalipun harapan itu tak menjadi nyata

Bukan seperti itu,

sesuatu itu tidak ada yang sia-sia
cobalah kalian sejenak bermuhasabah
satu yang perlu kalian ingat.
Hadapi dan jalani dan jangan lupa intropeksi diri
ikuti arusnya, nikmati prosesnya
Allah tau kapan kau akan memperoleh kebahagiaan dari Nya

Hadapi segala ujian
Dalam kesusahan yakinlah ada kemudahan
Peluk kembali setiap serpihan asa yang barangkali masih menyisakan luka.