Di malam minggu tepatnya tanggal **-**-1999. Langit Bangkalan nampak cerah bercahaya. Arakan awan di atas langit biru seolah menghindar jauh dari peredaran bumi, mengiringi langkah-langkah syahdu dalam rentetan waktu yg membisu. Dari gubuk sederhana terdengar suara bayi yang baru lahir menangis memecah buana, membawa kabar gembira bagi kedua orangtuanya.
Di malam yang bermandikan cahaya rembulan. Itulah kebahagian menyelimuti di setiap sudut rumah asal suara bayi menangis. Begitu bayi lahir, sang ayah langsung meng-adzani di telinga kanannya, dan meng-iqomati di telinga kirinya. Lalu bayi itu diberi nama “Luluk Illiyah”. Bayi mungil yang mempunyai arti “Mutiara yang bernilai tinggi” itu menjadi anak sulung dari empat bersaudara.
Dari hari ke hari Luluk kecil tumbuh menjadi dewasa, dan lambat laun ia mengerti tentang ilmu Agama, sastra, dan bahkan cinta. Jenjang pendidikannya di mulai dari bimbingan kedua orangtuanya secara langsung. Sampai saat ini masih menempuh pendidikan di STAI Syaichona Moh. Cholil Bangkalan. Dengan mengambil Prodi Ekonomi Syariah. Dalam hal ini dia Aktif di organisasi yang terhimpun dalam anggota FoSSEI di kampus tercintanya yaitu KSEI HIMA PRODI ESY STAIS BANGKALAN.
Hobi menghayalnya, membawa diri luluk pada langkah-langkah untuk mengungkapkan apa yang di khayalan melalui satu goresan penanya membuat seribu perubahan.
Jika luluk illiyah telah tiada
Itulah awal dari kebangkitannya
Jangan pernah merasa ada
karena manusia tercinta untuk binasa
Dan jangan penah merasa sempurna
Karena manusia tercipta dari setetes air hina
Ukirlah sejarah
Jangan pernah mundur atau bahkan menyerah
Biarlah kegagalan demi kegagalan menyapa
Namun, semangat harus tetap menyala