Tak Berkategori

Catatan di penghujung Desember

Akhir…

Bagiku semua bukanlah berakhir

Akan tetapi semuanya akan lebih baru

Semuanya akan lebih baik

Aku yakin itu

Selama ini, sejauh ini aku banyak merangkai angan

Entah mengapa semua itu tak bisa ku urai

Mungkin ini salah ku

Mungkin ini nasib ku

Tak sepantasnya aku mengadu pada sang waktu

Aku lupa bahwa waktu akan terus berlaju

Entah akan di bawa kemana jiwa dan ragaku

Sementara itu kadang aku menghiraukan yang terjadi padaku

Banyak harapan di penghujung desemberku

Tapi cukup aku dan tuhanlah yang tau

Beranda, Puisi

Penikmat senja

Lagi-lagi aku terbuai oleh senja

Padahal kadang aku tak suka

Sering aku berpaling darinya

Ah, dia hanya melihatkan keindahannya semata

Ironisnya kadang dia tak tampak seperti biasanya

Tapi banyak orang terbuai olehnya

Termasuk aku di dalamnya

Lebih heran lagi, langit itu menerima senja apa adanya

Bahkan dia pergi tanpa pamit terhadap penikmatnya

Menurutku senja itu mengajarkan kita arti sebuah kata ‘rela’

Beranda, Puisi

Malam ku untuk merindu

Dalam dekapan hening malam
yang bermandikan cahaya rembulan
dan seiring belaian angin lembut sepoi-sepoi yang menyelinap bulu roma
menggugah ingatakanku kepadanya
pada sosok wajah yang telah lama
menjadi teman dalam dunia imajinasiku
rupanya aku benar-benar rindu
kerinduan pun sungguh melanda
hingga hati ini tak tertata
selalu ada rindu dalam setiap cinta
bahkan selalu ada cinta dalam setiap rindu

lagi lagi aku menjadi korban rindu
akan kan rinduku menjadi candu
haruskah aku membisu
sementara rindu semakin menggebu
lantas apa yang harus aku lakukan?
apakah aku harus berlalu memburu waktu
yang menyita angan hingga tergores serpihan rindu
sungguh aku tak mampu
bila cintamu berpaling dari hatiku
aku ingin selalu bersama cinta kasihmu
memupuk rindu di setiap ruang kalbu

Beranda, Puisi

Benarkah Sakitku sebabmu?

Kamu egois…
kamu tidak pernah memikirkan perasaanku
kamu acuh terhadapku
andai kau tau
sakitku adalah sebabmu
aku memikirkan hatimu
aku memikirkan perasan mu
sampai aku lupa dengan diriku
aku lupa dengan keadaan ku
aku lupa segalanya tentang hidupku
aku tau siapa dirimu bahkan aku pun juga tau siapa diriku

Aku terbelenggu pada setiap putaran sang waktu
kau biarkan aku terhimpit pada waktu yang tak pernah memihak padaku
kau biarkan aku rindu
akan terus hadirmu
tapi kau tak pernah peduli hal itu
lalu, bagaimana janji mu yang pernah kau ucap dulu itu
di atas ketinggian itu kau berjanji tak akan meninggal kan ku
aku sudah percaya akan hal itu
tapi bodohnya aku
aku semudah nya mempercayaimu
hingga saat ini sakitku ini adalah sebabmu

Beranda, Cerpen

Papa aku ingin itu!

Perkenalkan nama ku Luluk Illiyah, aku terlahir dari sosok wanita yang begitu banyak perjuangan nya untuk melihatku sukses di dunia. Jemari kecilku ini melayang-layang di atas sebuah kertas tulis kosong sambil menggenggam pensil yang tak terlalu runcing ujungnya. Sesekali aku garukan pensilnya ke ubun-ubun kepalaku. Gelagatku nampak seperti anak dewasa tapi masih belia, bahkan malah seperti orang tua yang memiliki tunggakan cicilan rumah yang tak mampu dibayarnya. Papaku yang kebetulan sedari tadi sedang membuat teh panas memperhatikan anaknya di ruang tengah dari dapur. Tak heran karena anaknya yang biasanya bikin gaduh rumah, kali ini nampak lebih banyak diam. Karena penasaran, kemudian papaku mendekatiku dan bertanya…”Luk, kamu lagi ngerjain apa? Tugas Kuliah? Kok seperti orang bingung begitu?” tanya papa sambil mengaduk-ngaduk teh panasnya.

“Ah, betul ‘Pa, aku bingung mau jawab apa. Pertanyaannya soal cita-cita nanti kalau sudah besar mau jadi apa.” jawab ku sambil menggaruk-garuk kepala.

Sambil menyeruput tehnya, si papa kemudian tersenyum sambil bertanya, “kenapa harus bingung cantik? Coba bayangkan saja kalau kamu sudah besar nanti kira-kira kamu akan menjadi apa?”

Masih dengan kebingungan yang sama aku menjawab pertanyaan papa dengan pertanyaan, “Kalau papa menginginkanku jadi apa? Karena kudengar semua jawaban teman-temanku soal asal-usul cita-cita mereka, kebanyakan berasal dari harapan-harapan orang tua mereka.”

ayahku kemudian menepuk pundak ku sambil berkata “hidup yang sesungguh itu terlalu singkat, nak. Jika harus selalu mengikuti keinginan orang lain, kamu takkan pernah tahu arti dari kebahagiaan yang sesungguhnya. Hidupmu adalah hidupmu, kamu sendiri yang menjalaninya dan kamu sendiri yang menentukannya. Cita-cita itu hanyalah sebagian kecil dari inti kehidupan. Kamu akan tahu sendiri nanti tentang apa itu cita-cita dan bagaimana cara kerjanya menggapai cita-cita. Papa hanya minta satu hal kepadamu.”

“Apa itu, ‘Pa?” tanya ku setengah penasaran.

Sambil mengusap-ngusap rambut anak sulungnya itu, papa menjawab, “Jadi lah selalu orang yang berbuat baik, orang yang rendah hati.”

Kebuntuan yang aku rasakan kini nampak sudah terpecahkan, semua itu berubah menjadi rasa percaya diri. Dengan cepat, akupun langsung menggenggam pensil itu mulai menuliskan sesuatu di kertas kosong itu.

“Jadi, kamu sudah menentukan mau jadi apa nanti, Luk?” tanya papa

Senyuman bangga terurai di wajahku sambil mendekat pada papaku yang sedari tadi ada di sampingku.

“Aku mau jadi seorang penulis saja pa, biar aku di kenang oleh sejarah, dan aku ingin hidupku abadi walau nyatanya sudah mati.” ucapku dengan singkat.

Beranda, Puisi

Hujan membuat air mata tak tertahan

Hujan…

mengapa kau datang hari ini
mengapa kau datang saat aku seperti ini
kau seolah-olah mendukung keadaan ku saat ini
sungguh kau kejam padaku
hingga kau tak tau kondisiku
Lkau tak pernah ada d posisiku
sungguh aku membecimu

Aku sudah tak lagi percaya akan pelangimu
yang kau sembunyikan di balik gelapnya awan mu
sungguh aku membeci hal itu
andai kau tau
saat ini hatiku pilu
saat ini jiwa dan raga ku tak lagi bersatu
sebab seseorang yang ku cintai meninggal kan ku

Hidup ini tak adil
menekan batinku bagai kerikil
sejuta angan telah aku rangkai
namun tak satu pun mampu ku urai
aku semakin lemah
hidupku ini tak lagi bergairah
harus kemana lagi aku membawa
rintihan hati yang kian merana

Beranda, Puisi

Harapan yang sirna

Aku percaya bahwa takdir tak selamanya bahagia
kadang datang memberi sejuta luka yang terbungkus lara
aku tau dirimu tak perna punya rasa seperti apa yang pernah aku rasa sebelumnya
namun aku harap kau tak membiarkan diri ini hampa.

Tapi, apa nyatanya…
kau buat harapan ini sirna
kau hancurkan dongeng ini dengan sebuah alasan yang tak terduga
aku kecewa
bahkan aku terluka dengan hati yang tak terima akan kenyataan yang telah tiba

Aku sadar ini kesalahan saya
andai saya tidak pernah mengungkap kan nya
ku yakin semua akan baik-baik saja
tapi setelah sekian lama kita saling berbagi cerita dan aku merasa aku bahagia
Aahh dirimu seolah-olah tak pernah ada dalam cerita yang kita bina
lantas aku harus bagaimana?
haruskah aku mengeluh pada takdir sang maha kuasa

Beranda, Puisi

Senyum Sapa Mentari Hati

Malam itu aku tak mau tidur
Kalian tahu?

Sejak fajar tadi embun sudah membumi, walau tak jelas kulihat,
Embun membasahi aku
Aku dengan segelas kopi di halaman rumah Ilahi
Aku tak mau meneduhkan diri,
Aku hanya ingin disini
Di tempat ini
Aku merasa diri ini berarti

Kamu tahu?
Setalah aku menghambakan diri
Aku langsung kembali

Kamu tahu Habibi?
Pagi ini bercerita
Aku yang bahagia bertemu matahari
Lengkap dengan senyummu,
Habibi

Artikel, Beranda

Miris Sarjana Gak bisa Nulis

Ironis.. sini kak, dik, mungkin kamu belum sadar akan urgen nya sebuah tulisan walaupun hanya sepenggal. Kau boleh bayangkan ketika tulisan mu dibaca seseorang dan itu mereka jadikan sebuah motivasi diri padahal tulisanmu hanya sepenggal tadi, apakah kamu tidak bangga?

Apalagi saat kamu sudah wisuda dimana orang-orang di sekelilingmu melihat kamu mengenakan toga siapa sih yang tidak bangga. Akan tetapi kamu belum sadar kamu wisuda tanpa sebuah karya. Jangan bangga kalau mengerjakan skripsi saja tidak bisa. Kamu hanya copy-paste, atau kamu beli dengan sebuah harga.

Untuk apa kamu kuliah selama 4 tahun itu jika pada akhirnya kau buat hal sedemikian rupa. Sudahlah tidur saja kau dirumah, kau hanya butuh gelar sarjana bukan?

Tibalah saatnya kamu pada fase pengangguran. Kamu boleh sombong selangit, tapi cukup langit-langit kampus saja. Setelah kau lulus, kamu itu siapa?

Kau tak punya karya lalu apakah kau masih mau bangga?

Betul kamu lulus sarjana tapi ragamu seperti telah lulus sementara pikiranmu terpenjara di dalamnya. Karena kau bukan mahasiswa yang sesungguhnya.

Silahkan bantah tulisan ini kak, dik. Tetapi kalian tidak boleh bantah kenyataan. Seperti halnya sebuah ramalan yang tidak mungkin terjadi, kecuali kau telah mengalami.

Ayo kak, dik, sadari budaya literasi. Dari situ kamu akan menjadi orang yang berprestasi, dan mengispirasi baik orang lain maupun diri sendiri.

Saat kamu lulus sarjana kamu tak perlu resah, gelisah, bahkan gundah karena kamu tidak diterima di perusahaan yang kamu ingin kan. Buat apa kamu kuliah bertahun tahun lamanya hanya jadi seorang pekerja. Orang yang bekerja tidak harus lulus sarjana. Kalau kamu tetap begitu, apa bedanya dengan yang tidak punya pendidikan.

Gini kak, dik. saya kasih tau. Jadilah mahasiswa yang sesungguhnya, budayakan literasi, dan bangkitkan semangat motivasi diri. Tidak usah repot-repot setelah mau kerja dimana, mau kerja apa, di perusahaan mana. Kau bisa memperoleh uang dengan cara tidak bekerja yang kau perlukan hanya budaya membaca dan menulis sudah itu saja. Lalu kau implementasikan dengan sebuah karya. Itulah profesi paling mulia, kau hanya bersedia bolpen, buku, diam di rumah mau kerja kapan saja tidak ada orang yang memarahimu. ketika kamu tidak bekerja, kamu tetap punya kesibukan dan penghasilan bukan? Kamu kerja di sebuah perusahaan, gajimu berapa? Jerih payahmu berapa? Keluarga yang kau tinggalkan di rumah bagaimana? kak, dik, kenapa kalian tidak sadar-sadar akan sebuah goresan walaupun secuil ujung pena.

Tulisan itu mahal kak, dik. Seseorang yang luar biasa itu adalah penulis. Ketika menulis, seseorang dituntut untuk berfikir dan dalam berfikir dibutuhkan untuk membaca. Lalu masih kah kalian ragu akan hal itu?

Lihat pula seorang yang sukses dalam menulisnya, seperti Habiburrahman El Shirazy, Asma Nadia, Shibel Erslan dan masih banyak penulis lain yang karya-karya mereka dengan goresan-goresan tangan emas merekalah bisa menggugah hati seorang pembaca.

Saat kamu lulus ada dua pilihan. Kau berhasil mengispirasi dengan sebuah karya, atau kau malah jadi pekerja dengan segala upaya dan usaha tapi gajimu tidak seberapa. Tinggal kalian renungkan hal itu.

Artikel, Beranda, Biografi

Ocean Cinta Birrul Walidain

” Di antara samudra cinta yang paling luas dan dalam di dunia adalah kasih sayang seorang ibunda”

Sebuah ungkapan ini begitu tulus disampaikan seorang tokoh ternama di india-maaf saya lupa namanya. Namun, tak apalah, lebih baik ingat betul perkataannya dari pada tahu orangnya akan tetapi tak tahu nasehatnya. Look at the light, don’t look at the lantern. Lihatlah apa yang dikatakan, jangan terlalu silau pada siapa yang mengatakannya. Dalam bahasa Arab kita mengenal ungkapan : Unzhur maa qaala wa laa tanzhur man qaala. Begitu, bukan?

Kasih dan sayang ibunda tak pernah gugur di tengah jalan. Tak pernah fluktuaktif kadang naik atau kadang turun. Kasih sayangnya selalu ada, bertambah, seperti ketika menanam bulir padi, semakin lama semakin bersemilah bulir-bulir cinta yang lain.

Benar, kasih sayabg terdalam di dunia ini milik ibunda, ummi, ibu, mama, atau apa pun sebutannya.

Ada dua kebahagiaan terbesar bagi Abu Hurairah dalam semasa hidupnya. Pertama, ketika ia masuk islam dan bertemu Rasulullah. Kedua, ketika ibundanya memeluk islam.

Abu Hurairah mempunyai akhlak yang sangat baik terhadap ibundanya. Meski sang ibunda enggan memeluk islam, tak pernah sedikitpun kata-kata kotor terlontar dari lisannya. Hanya satu hal yang pernah ia kecewakan dari ibunya, yaitu saat ibunya mengejek nabi di hadapannya. Meski demikian Abu Hurairah menjawab ejekan itu dengan perkataan santun.

Datanglah sahabat penghafal hadis ini kepada baginda Nabi Saw. Ia menuturkan hafapannya dan minta di doakan agar ibunta masuk islam. Akhirnya, beliau pulang dari pertemuannya dengan nabi. Langkahnya masih lemas dan harap yang cemas. Sesekali menebak apa yang akan terjadi setelah ia sampaikan hal ini pada baginda. Ketika beliau sampai di pintu rumahnya dan mengetuk pintu, sang ibunda malah melarang dia masuk ke rumah.

Tambah lemaslah ia. Beliau kira keadaan semakin memburuk. Ternyata, justru ini adalah awal happy ending-nya. Tiba-tiba di dalam rumah terdengar gemercik air yang tak biasanya ia dengar. Setelah beberapa saat, terbukalah pintu. Di hadapan Abu hurairah berdiri ibundanya yang telah berpakaian menutup aurat, wajahnya terbasuh air beninh. “Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah” dengan kalimat itu sang ibunda menyambut kedatangan anaknya di depan pintu rumah.

Luar biasa.
Mendengar hal itu Abu Hurairah bergegas kembali menemui nabi. Ia menemui nabi dalam keadaan menangis karena begitu gembira.

Sepertinya, kita tak membutuhkan lagi definisi berbakti kepada orang tua karena hati nurani ini akan menjawab bahwa ada sejuta cara untuk menggapai keridhaan mereka berdua. Dari keduanya terbentang ladang dan kebun pahala yang siap petik, memijat ibu, membuatkan minum untuk ayah, membanggakan mereka berdua dengan menjadi anak shalih. Atau yang ampuh berkata pada mereka berdua dengan qaulan layyina ‘perkataan yang lembut’ dan khuluqan karima ‘akhlak yang mulia’, hingga jadilah kita qurrata a’yun bagi ayah dan ibu kita, penyejuk mata dan hati yang membanggakan. sudah siap? Mari laksanakan!